Thursday, April 30, 2015

Tentang Pengunci Ban Cadangan

“Ini nggak ada penguncinya?”.
“Ya. Begitu saja”, jawab saya spontan, sesaat setelah petugas bengkel ban meletakkan ban cadangan Marzo, beberapa tahun silam.

Setelahnya saya jadi mikir. Apakah memang betul, tidak ada penguncinya?

Sejak Marzo saya punyai, ban cadangan memang ditaruh begitu saja di tempat cekungnya. Cekungan ini memungkinkan ban tidak bergeser dari tempatnya, kecuali kalo mobil sampai jungkir balik. (Tentu saja, saya tidak mengharapkan sampai terjadi demikian).
Kesimpulannya, untuk keadaan normal, pengunci ban memang tidak terlalu diperlukan benar.

Beberapa bulan lalu, saat melihat-lihat ePER, ternyata memang ada pengunci ban cadangan. Istilahnya ‘Plug’, alias ‘penyumpal’.



Singkat cerita, pertengahan Februari lalu, obyek yang dimaksud berhasil didapatkan. (Don’t ask ‘how’. J )


Tapi….  kok nggak bisa dipasang ya….
Bautnya seperti kurang panjang, sehingga nggak sampai ke lubang baut pada braket.


Coba dianalisa.
Ban sudah memakai pelek ori.
ID parts-nya juga sudah sesuai. So?
Masak sih, pabrik membuat sebuah produkan yang tidak bisa dipasang?

Supaya berguna, sempat terpikir untuk melepas bautnya dan diganti dengan yang lebih panjang. Kendalanya, bagaimana melepas si baut dengan tanpa merusak rumahnya?




Lalu, terpikir juga untuk menambahkan semacam braket tambahan, sehingga baut bisa nyangkut dan mengunci. Hmmm…. Ini bikin kerjaan baru saja….

Sampai suatu waktu, tepatnya sekitar 3 minggu yang lalu, saya melihat penampakan benda yang sama, tergeletak di samping dispensernya bengkel pak Asep Dermaga.

Nah, ini dia!
Berarti, bendanya memang ini. No doubt.

Dan, kelamaan saya mulai agak mengerti ….
Pengunci ban ini sepertinya di-disain untuk ban dengan ukuran standar dari pabrik, yaitu lebar 155 mm.



Itu sebabnya, menjadi tidak berhasil ketika pertama kali dicoba pasang dengan ban cadangan yang berukuran lebar 185 mm. Dengan lebar pelek ori sekitar 140 mm, maka menyebabkan ban agak menggembung, sehingga menimbulkan tebal tambahan.



Berhubung nggak punya ban dengan ukuran ban 155, maka biar nggak penasaran, saya coba dengan pelek ori tanpa ban.



Hasilnya? Alhamdulillah…   
Sesuai dugaan, si pengunci nyangkut, bautnya bisa berputar mulus, dan terkunci.
Problem solved.  J




Ketika dicoba dengan posisi hanya sedikit nyangkut di ujung, masih ada renggang sekitar 2 cm.
Maka, hitungan kasarnya, kira-kira batas toleransi maksimum lebar ban yang bisa dikunci adalah sekitar 170~175 mm.



////

Tuesday, March 17, 2015

Pasang Karet Penggantung Knalpot

Satu waktu, saat Marzo bergeser dari posisi se-hari-harinya di halaman rumah, saya sempat ter-heran-heran dengan temuan benda yang ditemukan persis di posisi biasa Marzo parkir tersebut.
Apa ya ini?


Berhubung belum pernah ngolong jauh sampai ke area tengah, saya cuma bisa mengira-ngira kalau ini bagian dari penggantung knalpot di area tengah mobil.
Seingat saya, waktu dulu mengganti knalpot di Darto Pekayon, saya memang melihat ada semacam penggantung di area tengah. Karena waktu itu ngelihatnya dari arah belakang, maka penggantung itu lebih terlihat seperti tali, bukan gelang.

Teka-teki ini terjawab pada pertengahan Januari lalu, ketika (lagi-lagi) mas Ano IF merilis beberapa barang dagangannya. Dia kasih judul ‘Karet knalpot bulat’.
Biar lebih yakin, saya tanya ke yang bersangkutan mengenai posisi pasangnya.
Dijanjikan akan dikirimkan foto, tapi janji tinggal janji. Kelamaan nunggu foto, saya langsung pesan saja.

Akhir Februari lalu, benda ini sampai juga di tangan saya.

Saya ambil dua, karena nggak tahu jumlah persis yang mesti terpasang ada berapa.
Logika saja, mestinya ada di kanan dan di kiri.
Kalo yang satu saja ditemukan sudah putus kayak begitu, yang satu lagi mungkin kondisinya nggak akan beda jauh.


Pirelli ternyata gak main di ban aja ya…
Benda remeh temeh kayak gini juga disentuh….

Kemudian, mumpung ada waktu pada hari Sabtu lalu, saya sempatkan untuk memasang karet cincin ini.
Dan, ini untuk kali pertamanya saya ngolong sampai ke area tengah mobil…. Hehe….

Wah… kondisinya ternyata nggak ada penggantung yang tersisa sama sekali.
Untung aja belinya dua.

Sepertinya, si karet dilingkarkan di dua kaitan ini.





Nggak terlalu susah pemasangannya, hanya butuh bantuan obeng untuk menariknya sampai nyantol ke salah satu pengait.


Selesai dah.... 




Saat tulisan ini mulai dibuat, saya melihat-lihat ePER.
Eh, ternyata ada di situ. Namanya “Rubber ring”.



////

Monday, March 2, 2015

Tentang Safety Belt Belakang


“Hmm…. Kalo saja di bangku belakang ada seat belt….  “


***

Sesekali dalam perjalanan, saya mendapati kedua anak saya tertidur di bangku belakang.
Kalo dipikir-pikir… kasihan juga jika tiba-tiba saya harus me-rem mendadak.
Ada kemungkinan mereka akan bergeser tempat, terdorong ke arah depan.

Maka, muncul-lah sebuah angan-angan, seperti yang ada di awal tulisan ini.
Apakah itu mungkin?
Di Indo, safety belt (atau seat belt) bangku belakang untuk type-nya Marzo memang tidak disediakan saat pertama keluar dari pabriknya.

Kemudian, barang ini sepertinya sudah tidak ada yang menjualnya di Indo.
Tapi ini pun perlu klarifikasi; apakah memang pernah ada yang menjualnya? Entah-lah.

Jadi, bagaimana soal keinginan tadi?

Masih banyak cara dan jalan.
Sabtu kemarin, barangnya sudah berada di tangan saya. AlhamdulillahJ






Vielen Dank, SamuelJ


////

Sunday, March 1, 2015

Ganti Penutup Safety Belt

Ada beberapa aksesoris yang saya pengen untuk menggantinya.
Satu sudah bisa dicoret dari daftar, yaitu doortrim pintu belakang. (Walau barang barunya belum-lah saya pasang sampai saat ini).

Satu lagi yang lain, adalah penutup bagian bawah safety belt bangku depan. Baik kanan maupun kiri.

Kondisi yang sisi kiri lebih parah, sudah goyang, nggak ada sangkutan.


Sama halnya dengan doortrim, pada awalnya saya kira benda ini sudah nggak ada yang jual.

Pada akhir tahun lalu, secara nggak sengaja mata “menangkap” penampakan dagangannya mas Ano IF. Saat ditanyakan, sayangnya barang sudah habis. Dijanjikan saat itu, barang tersedia lagi di awal bulan Januari lalu.

[Beberapa waktu lalu, saya blusukan ke dunia maya. Penutup safety belt ini masih ada yang menjualnya di Eropa sono. Jadi, ini bukan masuk barang langka]

Setelah di-mahar-in, datang-lah si penutup atau cover safety belt ini pada hari Senin siang yang ber-hujan, 12 Januari lalu.


Setelah sebulan di-diam-kan, karena kesibukan dan lain hal, baru tiga Sabtu yang lalu (14 Februari) saya bisa pasang.
Ternyata…. ada trik-triknya juga. Nggak sembarangan.
Salah perlakuan, nasibnya bisa sama dengan cover yang lama.

Pertama sekali, cover yang lama dilepas dulu.

Lepas frame penutup ambang bawah pintu belakang. Ada tiga sekrup.


Karena cover yang lama sudah oblak maka bisa langsung dilepas, dan cover yang baru bisa mulai dipasang.

Selipkan dulu tali sabuk ke sela-sela lubang untuk sabuk.



Ujung bawah si cover yang baru diselipkan ke frame penutup ambang bawah pintu depan.



Sangkutan cover dimasukkan ke lubang sangkutan.



Eh, ternyata sangkutan si cover yang baru tidak bisa dipasang secara bersamaan. Satu masuk, yang satu lagi selalu ketinggalan. Beberapa kali dicoba, hasilnya tetap sama.

Dipaksa saja?
Hush! Barang baru nih… kudu’ hati-hati… jangan main paksa….

Jadi?
Metode pasangnya ada yang salah. Frame penutup ambang pintu depan harus dilepas juga.

Mari dirunut ulang.

1.    Lepas frame penutup ambang bawah pintu, baik pintu depan dan pintu belakang. Masing-masing terdapat tiga sekrup.
2.    Untuk memudahkan pemasangan, karet lis ambang pintu (ada istilah untuk karet ini, tapi saya lupa…)  dilonggarkan. Kanan dan kiri.



3.    Sangkutan si cover dimasukkan ke lubang yang ada. Dua-duanya. Bersamaan.
4.    Perlu diperhatikan soal bentuk sangkutannya, yang mengisyaratkan untuk digeser ke bawah setelah sangkutan itu masuk lubang.
5.    Kalo si cover sudah terkunci, maka tampilannya akan terlihat baik.
6.    Jangan lupa, karet list dirapatkan, dan frame penutup ambang pintu depan-belakang dipasang lagi.




Hal yang sama, dilakukan juga untuk yang sebelah kanan.

Secara otomatis, metoda melepasnya adalah kebalikan dari metoda memasang.

Sekali lagi, harus dipahami betul bentuk sangkutan si cover.


Untuk melepasnya, si cover harus digeser ke atas dulu, kemudian ditarik.

Dari bentuk kerusakan cover yang lama bisa kelihatan, kalo itu merupakan akibat dari tidak memahami cara melepas yang benar. Terkesan, pernah ada pelepasan dengan langsung menarik secara paksa, sehingga sangkutan menjadi patah.





////

Monday, February 16, 2015

Catatan Sehabis Mogok

Jujur saja.
Untuk soal per-otomotif-an, sejatinya saya ini cuma seorang user.
Ber-puluh-puluh tahun mengendarai roda dua, tahunya cuma: ngehidupin - pakai - ngisi bensin – ngemati-in. Nggak ada keinginan lebih jauh dari itu. Kalo ada trouble, tinggal bawa ke bengkel.

Namun sejak ada Marzo, passion saya jadi agak bangun. Lebih tepatnya, terpaksa bangun.
Kondisi memaksa harus begitu.
Akibat mobil sudah masuk kategori langka, bengkelnya pun ikutan langka.
Kalo nggak pengen kenapa-napa di jalan, maka harus mempelajari seluk beluknya.

Hanya saja, karena keterbatasan waktu, proses belajarnya sesuai kebutuhan saja. Kebanyakan dimulai dari permasalahan yang timbul. Nggak ada problem, otomatis nggak ada pelajaran. Ini jelek-nya.
Jadi nggak usah heran, bila ada beberapa ‘bab pelajaran’ yang belum tersentuh. Salah satunya, pengapian. Yang lain? Masih banyak... hehe....

Alkisah, pada tiga Sabtu malam minggu yang lalu, selepas Maghrib, saat baru saja “take-off” dari Matraman menuju Duren Tiga, tiba-tiba hujan turun menyergap. Saya tetap meneruskan perjalanan. (Kalo naik motor, mungkin saya berhenti dulu nih).
Setiap ketemu genangan, hajarrrrrrrrr…..  . Bikin air tersibak ke kanan dan ke kiri.
Saya targetkan, sampai di mesjid Al Falah Pertani saat waktu sholat Isya’.


Mendekati Patung Pancoran, mulai berasa ada yang aneh. Sesekali lampu indikator aki menyala. Setiap saya gas lebih dalam, keadaan normal kembali.
Saat berputar di depan sisi barat TMP Kalibata, dua kali mesin mati. Alhamdulillah, masih bisa dihidupkan.
Ya Allah, paling nggak sampai ke masjid dulu deh…doa saya waktu itu.
Dan, benar-lah. Qodarullah. Saat sampai di depan masjid, mesin mati lagi. Nggak bisa dihidupkan lagi.

Di satu sisi, saya ber-syukur, bahwa bisa melaksanakan sholat Isya berjamaah di masjid tepat waktu. Sesuai rencana.
Di sisi yang lain, jadi mikir-mikir. Berikutnya mesti ngapain nih?
Kondisinya hujan gerimis……  malam….  sendirian pula….
Setelah selesai sholat,  saya coba menghidupkan mesin beberapa kali, tetap nggak berhasil. Kondisi aki masih oke, karena tes klakson masih nyaring.
Sampai akhirnya saya putuskan untuk pulang dulu ke rumah, jalan kaki.

Mencoba telpon pak ABS. Nggak berhasil. (Kayaknya nomor yang saya punya salah).
Kemudian telpon pak Yan. Nyambung.
Singkat cerita, beliau memberikan beberapa arahan. [Terima kasih, pak Yan.  J ].
Pertama, cek pengapian dulu. Caranya, lepas kabel busi. Lalu kepala kabel busi ditancapkan sesuatu (misalnya batang obeng bolak-balik, yang bisa dilepas). Mobil di-starter, kabel plus batang obeng tersebut didekatkan ke bodi. Cek ada percikan, atau nggak.
Kedua, buka penutup delko. Bagian sisi dalam mangkuk penutup delko tersebut di-lap atau di-tisu-in sampai kering.

Memang dasarnya pikiran lagi blank saat itu. Dua poin tersebut, pada awalnya, tidak begitu saya mengerti. Baru mudeng setelah melihat youtube.  [Keadaan begitu masih sempat-sempatnya ya nyari di youtube... hehe...]


Okeh.
Balik lagi ke TKP. Buka kap mesin. Buka box filter udara. Buka satu kabel busi. Eh, baru kepikir…., nanti yang nyetater mobil siapaaaaa? Saya kan sendirian…
Ada satu jamaah masjid datang mendekat untuk melihat-lihat, tapi … saya nggak enak hati minta bantuannya.
Kemudian, datang lagi satu orang, satpam komplek di depan masjid. Untuk yang ini, bolehlah saya minta bantuannya. Eh,…. Si bapak ini nggak bisa men-starter mobil. Bikin saya bengong sejenak, dan berpikir, "ini beneran nggak bisa?"
Akhirnya, karena dirasakan sudah menemui jalan buntu, saya putuskan untuk pulang ke rumah lagi. Mau nelpon minta bantuan.

Saya pikir peluangnya fifity-fifty, saat saya mau memencet nomornya oom Chandra. Sudah pukul setengah sepuluh malam lewat, dan gerimis nggak abis-abis. Masak iya sih, si om bisa dan bersedia datang jauh-jauh dari Rempoa?
Ternyata, alhamdulillah, beliau bersedia membantu. Saya tanya, apakah mau datang besok pagi? Eh, malah mau diselesaikan malam ini juga.

Sekitar jam sebelas malam, si om dan asistennya sampai di lokasi, dan langsung beraksi.
Tutup delko langsung dibuka, setelah di lap pakai tisu kemudian dipasang lagi, mesin di-starter. Jreeeeng! AlhamdulillahMobil hidup lagi.  [Terima kasih, oom Chandra.  J ]

Problem solved, nggak sampai sepuluh menit. Menyisakan keheranan saya yang awam ini, kok nggak pakai cek pengapian busi dulu ya?

Ya, sudahlah…
Saatnya untuk memulai belajar masalah pengapian …  J


[Maaf, nggak ada foto-foto. Lagi stress, nggak kepikir sama sekali buat ngambil foto.]



////