Friday, March 31, 2017

Masalah Master Rem

Awal tahun ini, saya mendapati berkurangnya volume cairan rem di wadahnya, serta adanya genangan di seputar area bawah posisi master rem.



Menurut pak ABS, kalau genangan atau basah di bagian bawah buster tempat menempelnya master, berarti itu bocor seal dari bagian belakang rumah master.
Setelah saya periksa, sepertinya memang pada bagian ini sumber kebocoran.


Walaupun seal master sudah saya beli dari Mas Ano sejak akhir Januari lalu, masalah ini tetap belum tertangani sampai sekarang. Biasalah…. Sibuk…. Hehe….

Maka, jadilah ada rutinitas ekstra setiap mau pergi keluar, yaitu mencek cairan rem dan menambahnya bila jumlahnya di bawah ambang batas.
[Lama-lama bisa bikin tekor juga ya kalo setiap 2 minggu mesti beli cairan rem…]

////

Tuesday, February 28, 2017

Seputar Hujan

Salah satu hal yang saya suka pada saat hujan turun adalah melihat Marzo statis dalam terpaan air.
Apalagi kalo disertai angin. Wussss…….



Terkadang, ban belakang menjadi tempat perlindungan Mimi.


////

Friday, January 27, 2017

Seputar Angka Kilometer (2)

Awal tahun ini, saya sempatkan merekam angka kilometer.



229702.

Bila dibandingkan dengan angka setahun sebelumnya, didapat selisih sebesar:
229702 – 228518 =  1184 km.

Ini setara dengan 98.7 km per bulan, atau 22.8 km per minggu.

Bisa dipersempit lagi menjadi 11.5 km sekali jalan,  bila dianggap hanya keluar sekali dalam seminggu, pulang pergi.
Setara dengan jarak dari rumah ke gerbang UI depok.

Capaian ini kurang setengahnya dari rekor tahun sebelumnya.

Bisa dimaklumi.
Sepanjang tahun 2016, Marzo memang jarang keluar halaman.


////

Saturday, December 3, 2016

Tentang Kabel Negatif Aki

Kondisi fisik kepala terminal benda yang satu ini memang mengkhawatirkan. Sejak awal punya memang sudah begini keadaannya.



Dulu banget, sempat terpikir untuk mengganti sekalian dengan kabelnya, dengan barang yang ada di pasaran.
Saya urungkan setelah melihat ke-orisinil-an kabel yang terpasang ini. Saya jatuh hati dengan bagaimana kabel ter-cor langsung menyatu dengan kepala terminal.
Sayangnya, yang orisinil kayak gini sepertinya sudah kena stempel “rare item”.

Slow hunting saja.
Hingga akhirnya, saya beralih ke suku cadang sesama Fiat untuk tipe yang lain. 
Berdasarkan gambar penampakan di lapak penjual, ini lebih kurang sama dengan yang Marzo punya.
Panjang kabel, setelah di-kira-kira pakai skala, sepertinya memang lebih pendek, tapi masih bisa di-tolerir.


Alhamdulillah.
Selalu ada rasa senang ketika mendapatkan sesuatu yang orisinil. Taste-nya beda.
[Benda "3 benua" ini bisa ada karena bantuan seorang teman baik. Terima kasih, Na.]




ID-nya bukan seperti yang dicari, 7627754, melainkan 7572698.






Tetapi...
Kabelnya benar-benar kependekan!
Tekor 10 sentimeter-an.


***

Ternyata....
Setelah dicocokkan dan di-pas-kan dengan kabel lama yang masih terpasang, panjang kabel yang baru ini sama dengan yang lama tersebut.
Ini cukup melegakan.



Bisa timbul kesan awal lebih pendek 10cm, dikarenakan posisi “kupingan”-nya tidak sama dengan kabel lama, yaitu bergeser lebih kurang 10 cm.
Ini masalah baru. 

////

Wednesday, November 30, 2016

Ganti Karet Wiper Belakang

Waktu awal-awal kenal dengan Arfan (boss-nya Fiatretropolis), saya dapat satu tips.
Katanya, untuk karet wiper belakang bisa pakai karet wiper bekas yang panjangan, lalu dipotong.

Tips yang bermanfaat ini masih saya pakai sampai sekarang.
Kali pertama saya praktekkan adalah setelah dapat satu set wiper bekas, boleh minta dari Anto. [Ini sedikit lanjutan dari cerita kemarin. Jadi, setelah ter-heran-heran melihat wiper-wipernya, saya malah ngambil satu. Hehe…  ].

Selain efisiensi, ada alasan lain.
Untuk mendapatkan karet wiper belakang baru, yaitu ukuran 13 inch (atau 33 cm), ternyata cukup susah dicari di pasaran.

Kalo dikaitkan dengan rencana mengganti karet wiper depan setiap 3 bulan sekali, maka, pada akhirnya, karet wiper akan terpakai selama 6 bulan. Tiga bulan di depan, tiga bulan di belakang.


Langkah-langkahnya.

Melepas karet lama
 (1) Pahami dulu, bahwa ada 3 koneksi rangka ke karet. Dua di ujung, satu di tengah. Ujung-luar dan tengah, perletakan rol. Ujung-dalam (dekat poros), jepit.






(2). Lepas karet dari sangkutan ujung-dalam pakai bantuan obeng kecil. Congkel pelan-pelan. Jangan sampai sangkutan frame malah jadi patah.


(3). Kalo sudah lepas, si karet sebenarnya bisa langsung sliding. Tapi sayangnya, arah yang memungkinkan adalah ke arah dalam/kaca, sehingga tertahan. Jadi langkah berikut yang lebih pas, adalah cabut dua bilah besi dari karet. Sesudah si besi ini tercabut, praktis si karet jadi letoy, dan mudah dilepas.




Mempersiapkan karet “baru”  (pake tanda kutip)
(4). Karet dari (bekas) rangka wiper depan hanya tersangkut di salah satu ujung saja. Tapi, percayalah, ternyata cukup susah untuk melepas langsung si karet begitu saja. Tipsnya, sama dengan poin 3 di atas, yaitu tarik dua bilah besi lebih dulu.



(5). Karet lepas-an kemudian dipotong sesuai ukuran.



Memasang karet “baru”  (masih pake tanda kutip).
(6). Seluncurkan si karet dari arah dalam atau poros wiper.


(7). Masukkan bilah besi dari ujung-luar.


Oh, ya. Sebelumnya, perhatikan adanya coakan di bilah besi. Coakan ini harus masuk dan mengunci ke tonjolan yang ada di gutter-nya besi pada karet.


Jangan lupa, bilah besi-nya ada dua. Setelah satu sisi selesai, lakukan juga di sisi baliknya.



(8). Setelah besi “terkunci”, si karet tinggal digeser supaya kaitan rangka wiper masuk ke lubang sangkutan. Sebelum karet digeser atau didorong pakai bantuan jari, pastikan dulu karet sudah tercantol di sangkutan tengah dan ujung-luar.


(9). Setelah sangkutan masuk mengunci pada karet wiper, maka selesai-lah.



////