Saturday, March 10, 2018

Masalah Pipa Rem Belakang

Ketika mencoba melepas silinder rem roda belakang kanan, sekitar sebulan yang lalu, saya malah jadi punya urusan dengan mur konektor pipa remnya.


Akibat keasikan muter-muter mur dengan kunci pas dan nepel, saya telat menyadari kalau obyek yang diputar ternyata tidak ikut berputar.
Wah…. masalah nih….. 
Langsung terhenyak setelah tahu mur sudah terlanjur dol. Potongan penampang segi enam sudah berubah nyaris menjadi lingkaran.

Si silinder rem akhirnya dilepas segelondongan bersama pipa remnya, setelah terlebih dahulu ujung pipa rem yang satunya lagi dilepas dari percabangan pipa. Untungnya, panjang pipa rem hanya 40 cm.




Sudah di-dismantle kayak begitu-pun, dan disemprot we-de-pat-puluh, tetap saja si mur konektor itu susah untuk dilepas.


Nggak ada jalan lain, selain mengganti pipa rem tersebut, komplit dengan dua konektornya.
Solusi praktisnya adalah mencari pipa rem universal yang dijual meteran.
Saya beli dengan ukuran panjang setengah meter. Lebih panjang sepuluh senti dari panjang pipa aslinya.


Sejak awal, sudah agak kurang ‘sreg’ dengan bentuk ujung pipanya yang nggak sama dengan pipa ori. Bahkan, aneh-nya, kedua ujung pipa rem baru tersebut tidak sama satu sama lain. Dan, saya sangsi dengan salah satu ujungnya tersebut, yang terkesan ujung pipa hanya di-megar-kan begitu saja.
[Setelahnya, baru tahu kalo hal ini ada istilahnya. Namanya, “flare” atau “flaring”.  Tukang AC yang saya tanya, menyebutnya sebagai “plering”, pakai “p” bukan “f”. Hehe….]




Sebelum di-bending, coba dipasang dulu ke percabangan. Memang terasa kendor. Nggak sekencang seperti koneksi pipa ori-nya.
Feeling saya, kalo pipa baru ini dipasang, bakalan rembes.
Tapi gak ada pilihan. Saya tetap teruskan pasang pipa rem ini.

Pertama, pipa mesti dibentuk dulu lekukannya sesuai kondisi jalur yang dilintas.
Ditekuk-tekuk pakai tangan, masih bisa. Sesekali pakai bantuan kanvas rem.
[Setelahnya, saya baru tahu kalo nge-bending pipa rem ternyata ada alatnya].



Sampai satu saat, ada lekukan tanggung. Maksudnya biar cepat, maka saya bengkok-in pakai bantuan tang. Hasilnya, bentuk lekukan malah jadi terlalu patah, bukan lengkung.

Ctak!  Pipa rem beneran jadi patah, ketika bending-an hasil tang tersebut saya coba normalkan dengan tangan.


Wah...... masalah lagi….


***
Beberapa hal yang baru dipikirin setelah kejadian;
1.    Kalo mau lebih rapi dan yakin, buat template lekukan terlebih dahulu dengan bahan lain, misalnya kawat.
2.    Beli pipa rem jangan nge-pas jumlahnya. Beli lebih sebagai cadangan.

////

Monday, February 12, 2018

Seputar Paket Kiriman

Mensiasati kebutuhan suku cadang, mesti realistis, dan juga pragmatis.
Nggak ada waktu untuk mencari ke sana-sini, maka beli online jadi pilihan. Baik itu lokal-an, atau ebay-an.
Lama-lama jadi biasa.
Orang-orang di rumah, begitu juga satpam di kantor, juga jadi terbiasa kalo ada datang paket kiriman atas nama saya. Hehe…

Serba-serbi seputar paket yang diterima itu sendiri juga bisa dijadikan cerita.

Seperti, pada bulan Januari kemarin, ada tiga paket kiriman yang bikin saya takjub.

Pertama, paket berukuran panjang 24 cm, lebar 15 cm, dan tinggi 11 cm.


Awalnya, saya sempat merasa aneh dan sedikit nggak percaya.

Perasaan, saya cuman memesan barang yang ukurannya relatif kecil. Tapi kok kardusnya besar banget ya?



Setelah dibuka, memang benar ini pesanan saya.
“Cuma” satu buah kunci nepel. Haha...
Ruang kosong diisi plastik gelembung udara dan katalog. 

Kedua, paket dari luar.
Nggak ada yang aneh soal ukuran. Karena sesuai dengan bayangan saya akan ukuran barang yang dipesan.

Tetapi…..  kirimnya pakai perangko!  Masya Allah


Berjarak dua minggu kemudian, datang satu paket lagi. Juga, pakai perangko.


Di luar sana, perangko sepertinya masih lebih eksis, dibandingkan dengan di sini.

Penampakannya jadi mengingatkan saya akan hobi lama sebagai filatelis.

////

Tuesday, January 30, 2018

Seputar Angka Kilometer (3)

Selama periode 2017, Marzo banyak berdiam diri di halaman, dibanding bergerak di jalanan.

Status terakhir angka kilometernya?
230954


Mari di-kalkulasi.

Awal tahun dimulai dari angka, 229702.
230954 minus 229702, sama dengan 1252 km.
Dibagi 12 bulan, menjadi 104.3 km per-bulan.

Kalo di-komparasi dengan periode-periode sebelumnya.
2017 =  104.3 km per-bulan.
2016 =  98.7 km per-bulan.
2014/15 =  198.9 km per-bulan

Wah…
Kalo dibandingkan dengan tahun sebelumnya, ternyata ada kemajuan sedikit.

////

Thursday, December 7, 2017

Masalah Master Rem (3)

Padahal rencananya hanya mengganti master rem lama dengan yang baru.

Seiring waktu berjalan, saya jadi berpikir, bahwa sebenarnya masih ada opsi lain, yaitu memperbaiki master lama dengan mengganti seal kit-nya.

Ya. Apa salahnya untuk dicoba. Seal kit-nya sudah dibeli, mubazir kalo nggak dipakai. Andaikata memang info itu benar bahwa umurnya nggak akan lama alias tidak awet, toh saya masih mempunyai suku cadang yang baru.

Okeh.
Seminggu setelah master dilepas, kegiatan berikutnya adalah mencoba mem-preteli master lama.

Langkah-langkah pekerjaan, versi saya.

1.  Tangki cairan rem dicabut.




Salah satu karet seal tangkinya sampai rusak, karena sudah menempel terlalu keras.

[Sempat kepikiran saat mendapati seal karet tangki jadi ancur begini; bagaimana nanti saat dipasang kembali? Di-improvisasi pakai sealant saja?
Setelah beberapa waktu, baru timbul pemikiran; apakah di master baru sudah termasuk seal karet tangki?
Saya cek. Ternyata, ada. Haaa.... jadi lega.


Setelah dipikir-pikir lagi, kan mestinya seal karet tangki itu juga masuk dalam paket seal kit. Saya intip plastik pembungkusnya. Memang benar, ada.
Hmm.. kalo tahu begini, waktu nyopot tangki nggak perlu super hati-hati ya… hahaha…].

2.  “Snap ring” dilepas.
Awalnya saya kira, bisa pakai tang biasa. Nggak berhasil.
Ternyata memang mesti pakai tang khusus. Namanya "tang snap ring", atau "tang bengkok".

[Wew… saya jajan tang dulu jadinya...]



3.  Satu buah ring besi dilepas.

4.  Satu buah seal karet dilepas.


5.  Skak mat. 0-1


Menyerah dalam lima langkah.

////

Thursday, November 23, 2017

Masalah Master Rem (2)

Kegiatan hari Ahad kemarin adalah membongkar Master Rem.

Sedikit kilas balik.
Master rem tertangkap basah sedang bermasalah adalah sejak awal tahun ini.
“Hanya” dibelikan seal kit-nya, karena kondisi stok suku cadang sedang kosong di pasar lokal.
Awalnya mau dibongkar pasang sendiri, tapi karena ada satu mur yang susah dilepas, maka saya rencanakan untuk sekalian dikerjakan oleh bengkel saat Marzo cek-up sebelum lebaran.
Rencana direvisi lagi, yaitu hunting suku cadang baru. Seal kit nggak jadi dipakai. Menimbang masukan dari om Chandra-nya Fiatretropolis, yang berdasarkan pengalamannya, bahwa master yang diganti seal kit-nya saja biasanya nggak akan awet lama.
[Saat proses pencarian, saya jadi mengerti. Mengapa ada beberapa fiater yang men-subtitusi-nya dengan suku cadang milik mobil lain].
Setelah melewati waktu yang cukup panjang (terutama, untuk ngumpulin dana), pada akhir bulan lalu, master rem yang baru akhirnya ada di tangan. Alhamdulillah.
Direncanakan akan dibawa ke bengkel, sampai kemudian ada kejadian yang mengkondisi-kan saya harus bongkar-pasang sendiri.

Okeh.
Langkah-langkah pekerjaan versi saya.  [Haynes nggak dilihat-lihat lagi. Cukup pelajarin cara-caranya dari yutub saja].

1.
Targetnya adalah melepas mur pada booster dan konektor selang pipa.


Eh, ya. Sebelumnya, cairan rem yang masih ada di tangki, sebaiknya dikuras dulu.

2.
Melepas dua mur pada booster. Pakai kunci nomor 13.

Salah satu mur, yaitu yang berada di sisi luar, menjadi “handicap” proyek ini.
Dulu saya tidak bisa melepasnya. Sekarang, harus bisa!

Kendalanya; tidak ada ruang yang cukup untuk menggerakkan tools.

Hal ini sampai saya diskusikan secara khusus dengan pak ABS via email. Menurut beliau, pakai kunci ring juga bisa.
Pada akhirnya, mur ini memang bisa dilepas dengan kunci ring. Walau agak lama untuk melepasnya karena kunci hanya bisa diputar sedikit demi sedikit.


Mur yang berada di sisi dalam relatif lebih mudah dibuka. Pakai kunci sok.



3.
Melepas konektor pipa saluran rem.

Ada 2 konektor.

Konektor pertama, mestinya dibuka pakai kunci 12.
Tapi berhubung konektornya ternyata sudah aus, maka dilepas dengan bantuan tang.
[Heran… Kok aus-nya bisa sampai kayak gini yah? Apakah pada era pemilik sebelumnya, master rem ini dulunya sering dibongkar-pasang?]



Jadi PR nih. Saya sudah ada beberapa ide. Tapi kalo nanti nggak sempat diakalin, ya sudah, pasang lagi saja dengan bantuan tang.



Konektor kedua memakai kunci pas ukuran 13. Relatif lebih mudah dibuka.

4.
Master rem sudah bisa dilepas.





***

Manusia terkadang memang perlu sekali-kali dikasih sebuah peristiwa yang mengejutkan. Katakanlah, sebagai penegur dan pengingat. Supaya jangan menunda-nunda suatu urusan. Terlebih urusan yang jelas ada maslahat-nya.

Sedikit kisah di balik tulisan.

Akibat 3 minggu nggak keluar, dan tangki cairan rem nggak dikontrol, maka saat mobil mau dipakai pada hari Sabtu lalu, baru ketahuan kalo tangki sudah kosong.
Setelah tangki diisi penuh lagi, panasin mobil sebentar, …. wess…. keluar dari batas pintu pagar, dan … masya Allah.... rem blong!
Rupanya, sistem rem-nya sudah keburu “masuk angin”.

Alhamdulillah ‘ala kulli haal.
Untunglah posisinya masih di jalanan datar di depan rumah, belum sampai berbelok ke jalan menurun setelahnya.
Saya tidak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi jika sudah sampai di turunan tersebut. Horor!

////