Friday, January 27, 2017

Seputar Angka Kilometer (2)

Awal tahun ini, saya sempatkan merekam angka kilometer.



229702.

Bila dibandingkan dengan angka setahun sebelumnya, didapat selisih sebesar:
229702 – 228518 =  1184 km.

Ini setara dengan 98.7 km per bulan, atau 22.8 km per minggu.

Bisa dipersempit lagi menjadi 11.5 km sekali jalan,  bila dianggap hanya keluar sekali dalam seminggu, pulang pergi.
Setara dengan jarak dari rumah ke gerbang UI depok.

Capaian ini kurang setengahnya dari rekor tahun sebelumnya.

Bisa dimaklumi.
Sepanjang tahun 2016, Marzo memang jarang keluar halaman.


////

Saturday, December 3, 2016

Tentang Kabel Negatif Aki

Kondisi fisik kepala terminal benda yang satu ini memang mengkhawatirkan. Sejak awal punya memang sudah begini keadaannya.



Dulu banget, sempat terpikir untuk mengganti sekalian dengan kabelnya, dengan barang yang ada di pasaran.
Saya urungkan setelah melihat ke-orisinil-an kabel yang terpasang ini. Saya jatuh hati dengan bagaimana kabel ter-cor langsung menyatu dengan kepala terminal.
Sayangnya, yang orisinil kayak gini sepertinya sudah kena stempel “rare item”.

Slow hunting saja.
Hingga akhirnya, saya beralih ke suku cadang sesama Fiat untuk tipe yang lain. 
Berdasarkan gambar penampakan di lapak penjual, ini lebih kurang sama dengan yang Marzo punya.
Panjang kabel, setelah di-kira-kira pakai skala, sepertinya memang lebih pendek, tapi masih bisa di-tolerir.


Alhamdulillah.
Selalu ada rasa senang ketika mendapatkan sesuatu yang orisinil. Taste-nya beda.
[Benda "3 benua" ini bisa ada karena bantuan seorang teman baik. Terima kasih, Na.]




ID-nya bukan seperti yang dicari, 7627754, melainkan 7572698.






Tetapi...
Kabelnya benar-benar kependekan!
Tekor 10 sentimeter-an.


***

Ternyata....
Setelah dicocokkan dan di-pas-kan dengan kabel lama yang masih terpasang, panjang kabel yang baru ini sama dengan yang lama tersebut.
Ini cukup melegakan.



Bisa timbul kesan awal lebih pendek 10cm, dikarenakan posisi “kupingan”-nya tidak sama dengan kabel lama, yaitu bergeser lebih kurang 10 cm.
Ini masalah baru. 

////

Wednesday, November 30, 2016

Ganti Karet Wiper Belakang

Waktu awal-awal kenal dengan Arfan (boss-nya Fiatretropolis), saya dapat satu tips.
Katanya, untuk karet wiper belakang bisa pakai karet wiper bekas yang panjangan, lalu dipotong.

Tips yang bermanfaat ini masih saya pakai sampai sekarang.
Kali pertama saya praktekkan adalah setelah dapat satu set wiper bekas, boleh minta dari Anto. [Ini sedikit lanjutan dari cerita kemarin. Jadi, setelah ter-heran-heran melihat wiper-wipernya, saya malah ngambil satu. Hehe…  ].

Selain efisiensi, ada alasan lain.
Untuk mendapatkan karet wiper belakang baru, yaitu ukuran 13 inch (atau 33 cm), ternyata cukup susah dicari di pasaran.

Kalo dikaitkan dengan rencana mengganti karet wiper depan setiap 3 bulan sekali, maka, pada akhirnya, karet wiper akan terpakai selama 6 bulan. Tiga bulan di depan, tiga bulan di belakang.


Langkah-langkahnya.

Melepas karet lama
 (1) Pahami dulu, bahwa ada 3 koneksi rangka ke karet. Dua di ujung, satu di tengah. Ujung-luar dan tengah, perletakan rol. Ujung-dalam (dekat poros), jepit.






(2). Lepas karet dari sangkutan ujung-dalam pakai bantuan obeng kecil. Congkel pelan-pelan. Jangan sampai sangkutan frame malah jadi patah.


(3). Kalo sudah lepas, si karet sebenarnya bisa langsung sliding. Tapi sayangnya, arah yang memungkinkan adalah ke arah dalam/kaca, sehingga tertahan. Jadi langkah berikut yang lebih pas, adalah cabut dua bilah besi dari karet. Sesudah si besi ini tercabut, praktis si karet jadi letoy, dan mudah dilepas.




Mempersiapkan karet “baru”  (pake tanda kutip)
(4). Karet dari (bekas) rangka wiper depan hanya tersangkut di salah satu ujung saja. Tapi, percayalah, ternyata cukup susah untuk melepas langsung si karet begitu saja. Tipsnya, sama dengan poin 3 di atas, yaitu tarik dua bilah besi lebih dulu.



(5). Karet lepas-an kemudian dipotong sesuai ukuran.



Memasang karet “baru”  (masih pake tanda kutip).
(6). Seluncurkan si karet dari arah dalam atau poros wiper.


(7). Masukkan bilah besi dari ujung-luar.


Oh, ya. Sebelumnya, perhatikan adanya coakan di bilah besi. Coakan ini harus masuk dan mengunci ke tonjolan yang ada di gutter-nya besi pada karet.


Jangan lupa, bilah besi-nya ada dua. Setelah satu sisi selesai, lakukan juga di sisi baliknya.



(8). Setelah besi “terkunci”, si karet tinggal digeser supaya kaitan rangka wiper masuk ke lubang sangkutan. Sebelum karet digeser atau didorong pakai bantuan jari, pastikan dulu karet sudah tercantol di sangkutan tengah dan ujung-luar.


(9). Setelah sangkutan masuk mengunci pada karet wiper, maka selesai-lah.



////

Sunday, October 30, 2016

Ganti Karet Wiper Depan

Pertengahan 2012, saat berkunjung ke rumah Anto di Munjul, saya sempat ter-heran-heran,
melihat beberapa wiper bekas yang ditunjukkannya ke saya.
Sepertinya, teman kuliah saya ini mempunyai kebiasaan mengganti wiper ‘Singa Perancis’-nya itu secara terjadwal, alias rutin. Beberapa di antaranya, sekilas malah masih terlihat bagus.
Endang (istrinya) pun sampai ber-komentar, “… mas Anto kalo ke-mana-mana, memang hobinya beli wiper…”.  Anto pun tersenyum lebar… hehehe…

Memang sih, setahu saya, nggak ada aturan yang baku mengenai kapan mesti mengganti karet wiper.
Saya sendiri lebih senang menggantinya setahun sekali, terutama saat baru mulai masuk musim hujan. Dengan catatan, itu pun kalo lagi ingat. Hehehe….

Belakangan, setelah memperhatikan hujan yang mulai seperti tidak kenal musim lagi,  [“Anomali”, kalo kata Haidhy, salah seorang kolega saya], saya pikir, kebiasaan baik Anto ini patut ditiru.
Ganti setiap 6 bulan sekali, itu cukup ideal.
Karena beberapa pertimbangan, saya rencanakan jadwal yang lebih ketat lagi, yaitu ganti setiap 3 bulan sekali.


Biasanya saya pakai merek Bosch. Tipe ber-rangka, bukan yang ‘frameless’.

Kebetulan, tipe yang terakhir saya beli adalah BBE450. Dulu, pernah pakai tipe BE18.
Bedanya apa antara keduanya, saya nggak tahu-lah. Terpenting ukuran panjangnya sama-sama 18 inch, atau 450 cm.
Wiper ini punya dua tipe konektor, tergantung dari jenis cantolan di gagang wiper. Marzo ber-tipe kait, atau hook.


Konon, merek ini ada barang kw-nya. Wiper yang saya beli ini masuk yang mana ya, asli atau kw?


Cara mengganti wiper itu sifatnya ‘universal’, alias bisa di-aplikasikan ke hampir semua mobil. Nggak terlalu susah.

Langkah-langkah normal dalam melepas wiper lama, dan memasang wiper baru.
1.    Pastikan mobil dalam keadaan diam. [Kalo ganti wiper dalam keadaan mobill lagi jalan, ntar kayak pelem-pelem eksyen].
2.    Tekan konektor wiper pada kaitan. Lepas per-lahan-lahan dari kait si gagang.





3.    Masukkan/selipkan kait gagang ke konektor pada wiper baru. Selesai.



Itu kalo kondisi normal, ya.
Kalo yang saya alami, sebelum poin 3 masih ada beberapa sub-poin dari poin 2.

Soalnya begini.
Dalam beberapa kali penggantian, saya selalu gagal memasukkan kait ke konektor pada wiper baru.
Dulu sempat heran juga, tapi saya nggak mau ambil pusing. Konektor lama saya pindahkan saja ke wiper baru.




Selesai deh urusannya.


////

Sunday, September 25, 2016

Ganti Shock Breaker Depan

Sokbreker, alias shock breaker atau shock absorber.

Masalah kaki-kaki yang kemarin itu, sedikitnya telah memaksa saya “keluar kandang”.
Selain harus membeli ban luar baru, saya juga jadi terpacu untuk memikirkan proyek sokbreker yang sudah cukup lama tertunda.

Sokbreker depan sebelah kiri, memang sudah “berisik” sejak lama. Mungkin, ada sekitar 2 tahun-an lebih. [Hehehe… lama bener, yak?]
Waktu terakhir ketemu pak Asep di bengkelnya pertengahan tahun lalu, malah sampai dikomentarin, “sok-nya sudah mati nih..”.

Kalo dipikir-pikir, kondisi sekarang sebenarnya cukup pas. Masalah sokbreker ini kan bisa diikutsertakan dengan paket pekerjaan kaki-kaki bila nanti dibawa ke bengkel.
Tapi, berhubung sudah niat pengen dikerjakan sendiri, so…. dijalankan saja dulu.

Sudah nyadar dari awal, bahwa ini butuh 'effort' (terutama, dana) yang cukup lumayan. Oleh karena itu, pernak-pernik yang berhubungan dengan proyek sokbreker ini dikumpulkan satu demi satu, walau makan waktu agak lama.




Per. Nama aliasnya, per keong.

Saya beli seken pertengahan November 2014 dari Fajar Erlangga, fiater asal Tangsel.
Sebetulnya ini buat jaga-jaga saja.
Per yang masih terpasang kayaknya sih masih oke. Semoga begitu.



Karet boot.

Karet yang saat ini masih terpasang memang harus diganti. Sudah bodol.
Saya datangkan sepaket dengan pembelian “per”, walau bisa dikatakan, ini dibeli secara nggak sengaja.

[Awalnya cuman nanya saja, belum pengen beli. Eh, nggak tahunya, diikutkan dalam pengiriman bersama paket “per”. Bikin saya kaget dua kali. Pertama, kaget karena hal ini. Kedua, kaget karena barang se-abrek-abrek ini sudah dikirim dan bahkan sudah sampai di rumah duluan sebelum dibayar. ‘Trustworthy’ ternyata ada di komunitas Fiat….. ].




Sokbreker.

Setelah ber-tahun-tahun diincar, sokbreker ini –akhirnya- bisa saya punyai. Alhamdulillah.
Tipe oli. Merek Monroe.


Saya datangkan dari mas Ano pada awal bulan Februari lalu, setelah cukup sering saya tunda-tunda terus pembeliannya. [Semoga nggak dianggap sebagai “php” oleh mas Ano. Hehe….  ]





Terakhir, alat bantu, yaitu Treker.
Kata orang-orang sih, ini buat nge-press per. Berhubung saya belum pernah coba dan pakai, jadi saya percaya aja-lah dengan apa kata orang… hehe….
Saya beli akhir Februari lalu. Merek Tekiro. Tipe “single clamp”.

Kalo kata pak ABS, untuk nge-press “per”, sebenarnya bisa di-improvisasi dengan bantuan kawat.
Saya pernah lihat “metode kawat” ini di youtube, dan beberapa tulisan blog otomotif. Too risky, terutama buat newbie kayak saya.


***

Manusia boleh berencana, tetapi Allah juga yang menentukan.

17 Agustus. Tanggal merah.
Beberapa persiapan dilakukan. Termasuk ambil beberapa foto, buat dokumentasi.

Pemandangan “pasien pertama” ada di depan mata. Sokbreker depan kiri.
Target pertama adalah melepas 2 buah baut bawah.


Kemudian kaki melangkah ke rumah ortu.
Satu tas perlengkapan warna merah berisi sekumpulan kunci ring dan kunci pas  yang biasa saya pergunakan (baca: pinjam), ternyata tidak ada di tempat biasanya.

Mood mendadak hilang. Proyek bubar.


[Pelajaran yang bisa diambil:  Segala macam kunci-kunci, entah itu kunci pas, kunci ring atau kunci lainnya, sebaiknya mulai dilengkapi sendiri].


////