Saturday, August 13, 2016

Tentang Kunci Roda

Memang ada cerita tersendiri.

Sejak awal memiliki Marzo, saya sebetulnya heran.
Mengapa kunci roda peninggalan pemilik sebelumnya ini tidak bisa masuk dengan pas di slot-nya pada rumah dongkrak.
Tapi, lama kelamaan saya jadi paham, kalo ternyata bukan kunci roda ori.
[Saat proses pembuatan tulisan ini, saya baru tahu kalo di kunci roda ini tertera tulisan “made in japan”].



Sampai kemudian pada awal tahun lalu, saya menemukan sebuah iklan.


Wah… 
Berkecamuk dalam pikiran, selama ber-minggu-minggu….

Daripada penasaran….


Dibikin happy saja. Ibarat menemukan satu keping puzzle yang hilang.


Dasar memang jodohnya, kunci roda orisinil ini langsung ‘plek’ ketika dipasang.

Hanya saja, untuk keperluan operasional, saya tetap pakai kunci roda yang lama.


Ketika saya ceritakan soal “perburuan” kunci roda dari Itali ini ke dua rekan kerja, langsung terlihat ada perubahan pada roman muka mereka. Reaksi itu lebih kurang bisa diterjemahkan sebagai sebuah komentar, “Memangnya di sini nggak ada yang jual kunci roda?”.
Saya pikir, ini respon yang normal dari siapa saja ketika mengetahui cerita ini. Hehe…

Ya… Begitulah…
Kalo sudah masuk ke ranah hobi, kadang bisa dijumpai hal-hal yang  terasa nggak masuk di akal.
Oleh karenanya, saya terkadang heran. Terutama, heran terhadap komunitas Fiat. Juga, heran terhadap diri saya sendiri.  :)

////

Sunday, July 31, 2016

Tentang Perkakas

Mari, berkenalan dengan salah satu tools bawaan mobil, yaitu dongkrak dan teman-temannya.




Satu set dongkrak orisinil ini sendiri terdiri dari beberapa komponen.






Pertama. Dongkrak, atau ‘Jack’.

Pada masa-masa awal dulu, saya pernah sangsi dengan kemampuan dongkrak orisinil ini.
Sempat saya tanyakan juga ke milis komunitas. Beneran kuat apa nggak ya?

Saking ‘underestimated’-nya, saya pernah berencana untuk membeli dongkrak baru.
Tapi nggak jadi, karena keburu ada kondisi yang mau nggak mau mengharuskan saya untuk memakai dongkrak ini.

Eh, ternyata dongkrak ini oke juga. Setidaknya untuk urusan bongkar pasang ban dan angkat-angkat mobil sedikit.

Asalkan dipakai sesuai petunjuk pemakaian, harusnya nggak akan timbul masalah.
Peruntukannya memang hanya bisa dipakai menopang di pinggir mobil saja, dan dengan batasan area yang tertentu pula. Hal ini ada dijelaskan di buku pegangan.
Petunjuk semacam ini juga tertempel pada frame dongkrak.




Kedua. Hand grip, atau pegangan tuas pemutar.

Hand grip ini membantu tangan tidak bersentuhan langsung dengan tuas pemutar dongkrak, sehingga mempermudah kita memutar tuas.

Ketiga. Tempat atau rumah-nya dongkrak.

Ada tiga slot di salah satu sisi sampingnya. Sebagai tempat menempelnya obeng, hand grip, dan kunci roda.
Lubang lingkaran di sisi atas, adalah tempat “mendarat”-nya pengunci ban serep.
Jadi, saat akan diletakkan di atas roda cadangan, rumah dongkrak ini akan ditelungkup ke bawah, dan lubang lingkaran ini masuk ke pengunci ban serep.

Di sisi bawah, ada tertulis kalimat “inserimento del martinello nel contenitore”. Apa tuh artinya?



Keempat. Kunci ban. Kunci roda.

Fungsinya untuk membuka baut roda, tentu saja.
Belum pernah sekalipun saya pakai, karena saya lebih pilih pakai kunci roda lain.

[Tentang kunci roda ini, –mungkin- nanti akan ada cerita tersendiri. Buat kapan-kapan saja.]

Kelima. Obeng.

Obeng ini juga belum pernah saya pakai. Alasannya sama dengan kunci roda.

////

Saturday, June 25, 2016

Tentang Buku Pegangan (3)

Kalo buat pedoman ngoprek, sebenarnya buku Haynes sudah mencukupi.
Adapun keberadaan buku-buku pegangan lainnya, saya pikir, itu sebagai pelengkap saja.
Collector item. Bisa juga begitu.

Buku berikut adalah salah satunya.



Terbitan Autobooks, tahun 1984, nomor seri OWM 988.
Hardcover, dengan ukuran buku 18.7cm x 24.6cm, dan tebal lebih kurang 1.7cm.
Berisi 202 halaman.


Sayangnya, hanya membahas ‘MK satu’

Semua langkah pekerjaan, ditunjukkan dengan gambar, bukan foto.





Saya beli tepat pada dua tahun yang lalu (akhir Juni 2014).
Kondisi baru, alias NOS (new old stock).
Harganya relatif cukup murah, karena lagi ‘sale 30%’.
Tapi… ongkirnya yang mahal…. L


////

Wednesday, May 11, 2016

Panduan Melepas Panel Pintu

Panel pintu, alias doortrim, yang dibahas di sini adalah untuk pintu depan.

"Urusan nge-buka panel pintu aja pake dibuat panduan?"
Yah… namanya juga lagi iseng. Hehe…

***
Pertama, lepas armrest. [Alih bahasa ‘armrest’ ini apa ya?]
Ada 3 sekrup yang mesti dilepas. Khusus sekrup ujung paling atas, harus dibuka atau dicongkel dulu penutupnya.




Kedua, lepas sambungan saklar power window (PW).

Sekilas, konektor kabel bisa langsung dilepas. Padahal, jika saklar masih menempel di armrest, upaya melepas konektor kabel ini susahnya minta ampun. So, don't do this.


Saklar PW harus dikeluarkan dulu dari armrest, dengan cara menekan ‘lidah’ yang ada di salah satu sisi saklar.
Setelah saklar PW bebas, maka konektor kabel baru bisa dilepas.






Ketiga, lepas bingkai/frame tuas pembuka pintu.

Waktu pengalaman pertama, ini sempat bikin saya termenung cukup lama.
Gimana ngelepasnya? Setelah ngintip sebentar ke Haynes, baru ketahuan caranya.

Si frame ini mesti di geser dulu, kemudian baru ditarik.
Sistem pengunci-nya mirip dengan penutup safety belt yang dulu pernah saya tulis.

Sebagai patokan, untuk melepas, si frame digeser ke arah menjauh dari engsel pintu.





Keempat, kendurkan 3 sekrup yang terdapat pada “kantong pintu”.

Kalo sebatas cuma mau ngelepas panel, asal si sekrup sudah lepas dari bodi mobil, itu sudah cukup. Kantong tidak perlu dilepas dari panel.




Kelima, lepas doortrim dengan mencabut pin-pin-nya dari bodi pintu.

Kalo panelnya sudah agak-agak berumur, biasanya saat melepas pin-pin ini, pilihannya cuma dua: pin-nya berhasil ikut atau masih nempel bersama panel, atau pin-nya “ketinggalan”, alias lepas dari papan panel.

Eh, jumlah pin-nya ada berapa ya? Saya nggak sempat ngitungin…  
Sepertinya, ada sekitar delapan buah.



Doortrim pun lepas.  J



////

Monday, May 9, 2016

Seputar Nilai Pajak Kendaraan

Sekitar sebulan yang lalu, seorang kolega (namanya Dwiwarno) bercerita bahwa nilai pajak mobil miliknya mengalami kenaikan.
"Masa’ sih?", respon spontan saya waktu ngedenger itu.

Sewaktu diurus pada tiga Sabtu yang lalu, hal ini sempat bikin saya penasaran juga.
Berapa sih besaran nilai pajak kendaraan bermotor (PKB) yang tertulis di STNK?

Eh, iya… ternyata benar naik.
Edan, naiknya lumayan juga, sekitar 30%-an!

Tahun ini, 340 ribu.


Tahun lalu, 255 ribu. Besaran ini tidak berubah dari sejak surat-surat kendaraan saya balik namakan pada tahun 2012.



Setelahnya saya googling. Cari info.
Rupanya kenaikan ini terhitung mulai Juni 2015. [Kok saya baru tahu ya…]

Hmm…. Walau secara nilai total, pajaknya Marzo masih bisa terbilang ekonomis.
Tetapi, tren kenaikan ini tetap harus diwaspadai.
Apakah kenaikan ini hanya terjadi di tahun ini, yaitu semacam reset untuk mencari nilai patokan baru yang selanjutnya secara alami akan menyesuaikan dengan nilai jual dan umur kendaraan?
Atau, malah “naik-naik ke puncak gunung”, alias setiap tahun naik, seperti halnya PBB? [Padahal, tanah atau rumah itu tidak sama dengan kendaraan].
Bila yang terakhir ini sampai terjadi, bener-bener deh… Judulnya, "Singapur-isasi"…

////