Saturday, June 25, 2016

Tentang Buku Pegangan (3)

Kalo buat pedoman ngoprek, sebenarnya buku Haynes sudah mencukupi.
Adapun keberadaan buku-buku pegangan lainnya, saya pikir, itu sebagai pelengkap saja.
Collector item. Bisa juga begitu.

Buku berikut adalah salah satunya.



Terbitan Autobooks, tahun 1984, nomor seri OWM 988.
Hardcover, dengan ukuran buku 18.7cm x 24.6cm, dan tebal lebih kurang 1.7cm.
Berisi 202 halaman.


Sayangnya, hanya membahas ‘MK satu’

Semua langkah pekerjaan, ditunjukkan dengan gambar, bukan foto.





Saya beli tepat pada dua tahun yang lalu (akhir Juni 2014).
Kondisi baru, alias NOS (new old stock).
Harganya relatif cukup murah, karena lagi ‘sale 30%’.
Tapi… ongkirnya yang mahal…. L


////

Wednesday, May 11, 2016

Panduan Melepas Panel Pintu

Panel pintu, alias doortrim, yang dibahas di sini adalah untuk pintu depan.

"Urusan nge-buka panel pintu aja pake dibuat panduan?"
Yah… namanya juga lagi iseng. Hehe…

***
Pertama, lepas armrest. [Alih bahasa ‘armrest’ ini apa ya?]
Ada 3 sekrup yang mesti dilepas. Khusus sekrup ujung paling atas, harus dibuka atau dicongkel dulu penutupnya.




Kedua, lepas sambungan saklar power window (PW).

Sekilas, konektor kabel bisa langsung dilepas. Padahal, jika saklar masih menempel di armrest, upaya melepas konektor kabel ini susahnya minta ampun. So, don't do this.


Saklar PW harus dikeluarkan dulu dari armrest, dengan cara menekan ‘lidah’ yang ada di salah satu sisi saklar.
Setelah saklar PW bebas, maka konektor kabel baru bisa dilepas.






Ketiga, lepas bingkai/frame tuas pembuka pintu.

Waktu pengalaman pertama, ini sempat bikin saya termenung cukup lama.
Gimana ngelepasnya? Setelah ngintip sebentar ke Haynes, baru ketahuan caranya.

Si frame ini mesti di geser dulu, kemudian baru ditarik.
Sistem pengunci-nya mirip dengan penutup safety belt yang dulu pernah saya tulis.

Sebagai patokan, untuk melepas, si frame digeser ke arah menjauh dari engsel pintu.





Keempat, kendurkan 3 sekrup yang terdapat pada “kantong pintu”.

Kalo sebatas cuma mau ngelepas panel, asal si sekrup sudah lepas dari bodi mobil, itu sudah cukup. Kantong tidak perlu dilepas dari panel.




Kelima, lepas doortrim dengan mencabut pin-pin-nya dari bodi pintu.

Kalo panelnya sudah agak-agak berumur, biasanya saat melepas pin-pin ini, pilihannya cuma dua: pin-nya berhasil ikut atau masih nempel bersama panel, atau pin-nya “ketinggalan”, alias lepas dari papan panel.

Eh, jumlah pin-nya ada berapa ya? Saya nggak sempat ngitungin…  
Sepertinya, ada sekitar delapan buah.



Doortrim pun lepas.  J



////

Monday, May 9, 2016

Seputar Nilai Pajak Kendaraan

Sekitar sebulan yang lalu, seorang kolega (namanya Dwiwarno) bercerita bahwa nilai pajak mobil miliknya mengalami kenaikan.
"Masa’ sih?", respon spontan saya waktu ngedenger itu.

Sewaktu diurus pada tiga Sabtu yang lalu, hal ini sempat bikin saya penasaran juga.
Berapa sih besaran nilai pajak kendaraan bermotor (PKB) yang tertulis di STNK?

Eh, iya… ternyata benar naik.
Edan, naiknya lumayan juga, sekitar 30%-an!

Tahun ini, 340 ribu.


Tahun lalu, 255 ribu. Besaran ini tidak berubah dari sejak surat-surat kendaraan saya balik namakan pada tahun 2012.



Setelahnya saya googling. Cari info.
Rupanya kenaikan ini terhitung mulai Juni 2015. [Kok saya baru tahu ya…]

Hmm…. Walau secara nilai total, pajaknya Marzo masih bisa terbilang ekonomis.
Tetapi, tren kenaikan ini tetap harus diwaspadai.
Apakah kenaikan ini hanya terjadi di tahun ini, yaitu semacam reset untuk mencari nilai patokan baru yang selanjutnya secara alami akan menyesuaikan dengan nilai jual dan umur kendaraan?
Atau, malah “naik-naik ke puncak gunung”, alias setiap tahun naik, seperti halnya PBB? [Padahal, tanah atau rumah itu tidak sama dengan kendaraan].
Bila yang terakhir ini sampai terjadi, bener-bener deh… Judulnya, "Singapur-isasi"…

////

Friday, April 22, 2016

Tentang Nomor Mesin dan Rangka

Bulan ini, masa berlakunya surat kendaraan habis. Mesti diperpanjang untuk masa lima tahun berikutnya. Pelat nomor juga harus diganti.
Anehnya, suratnya habis di bulan April, tapi pelat nomornya malah di bulan Mei. Hehe…




Konsekuensi dari itu semua, maka Marzo mesti dibawa “melapor” ke kantor polisi.

Saya tidak terlalu berminat untuk menulis pengalaman seputar proses perpanjangan surat kendaraan ini.
Selain karena sudah ada beberapa blogger yang menulis seputar itu (walaupun kebanyakan adalah tentang perpanjangan surat motor), juga karena saya agak-agak males kalo nanti mesti ngambil gambar atau foto di tempat umum semacam itu.

Ini tentang satu step sebelumnya, yaitu pengetahuan tentang letak nomor mesin dan nomor rangka.
Sepele, tapi rada-rada penting. Jangan sampai terjadi, ketika sudah sampai di tempat cek fisik kendaraan di samsat, kita tidak tahu letak dua nomor ini.
Atau mungkin kita sudah tahu, tapi ada sesuatu yang bisa merusak rencana. Misalnya, saya pernah baca sebuah kasus, di mana nomor rangka tidak bisa ketemu. Diduga, sudah ketutup oleh dempul waktu proses restorasi. J

Letak nomor mesin tentunya berada di seputaran mesin.





Sedangkan letak nomor rangka sebenarnya lebih mudah dicapai, karena posisinya berada di bagian atas. Persisnya ada di "kepala"-nya sokbreker depan kanan.
Tapi untuk bisa nge-gesek nomor rangka ini, kita mesti melepas penutup atas sokbreker dan bracket mounting wadah cairan kopling.
Tentunya, strutbrace atau strutbar mesti dilepas lebih dulu kalo masih dalam keadaan terpasang.



Hmm... Terasa sedih juga kalo pas lagi ngebongkar-bongkar kayak gini terus nemu bagian yang berkarat…


Dah begitu aja.   J

////

Thursday, March 31, 2016

Masalah Anak Kunci

Dua ahad yang lalu, pagi-pagi sebelum keluar dari pintu rumah untuk keperluan manasin mesin, sebetulnya sempat punya feeling setelah mengamati anak kunci yang sudah mau putus.
Qodarullah….sesuatu yang dikhawatirkan pun terjadi-lah….
Si anak kunci mendadak patah (saya lebih pilih istilah ‘putus’ sebetulnya), saat mesin dalam keadaan sudah hidup.

Patahan yang tertinggal di dalam rumah kunci starter tentunya nggak bisa dicabut begitu saja sebelum posisi kunci diputar balik, yang sekaligus juga untuk mematikan mesin.
Setelah beberapa kali percobaan dengan bantuan obeng kecil tapi masih belum berhasil, maka saya putuskan untuk mematikan mesin dengan cara mencabut kabel negatif dari aki.

Setelah mesin mati, dicoba lagi untuk mengeluarkan patahannya dengan obeng yang agak gedean. Nggak butuh waktu lama dibanding sebelumnya, si anak kunci berhasil diputar, dan patahannya dicabut dengan tang.


Kejadian ini menambah koleksi anak kunci patah milik saya menjadi dua.



Sejarahnya, dulu saya menerima dua anak kunci orisinil dari pak Bambang.

Salah satu problem di masa-masa awal mempunyai Marzo adalah tutup bensin yang susah sekali untuk dibuka.
Anak kunci bisa masuk ke slot, tapi keras untuk diputar. Baik putaran kunci untuk membuka, maupun untuk menutup atau mengunci. Saking alotnya, sampai-sampai menimbulkan efek puntir pada anak kunci.
Sampai pada suatu ketika, akibat beberapa kali “pergulatan” saya dengan tutup bensin, anak kunci orisinil itupun menjadi korban. Patah.
Lebih kurang selama 2 minggu-an, Marzo sempat tidak bisa dibawa keluar karena tidak ada anak kunci yang bisa dipakai untuk menghidupkan mesin.

Lho, kan masih ada satu kunci serep?
Itulah anehnya. Kunci serep orisinil ternyata nggak bisa dipakai untuk menyalakan mesin. Pola giginya sama, tapi nggak bisa dimasukkan ke lubang kunci starter-nya. Saya nggak tahu, salahnya di mana. Ketika saya konfirmasi, pak Bambang yakin bahwa anak kunci itu seharusnya bisa dipakai.

Alhamdulillah, saat berkesulitan seperti itu, saya bisa mendapatkan dua anak kunci baru dari mas Didit Panjank di Pondok Cabe. [Itu-lah kali pertama saya bertemu dengannya].

Bukan anak kunci ori. Entah, mas Didit ini dapat pasokan dari mana. Tulisan yg tertera ‘CETA’, bukan ‘FIAT’.
Tapi gapapa-lah. Terpenting, setelah dibawa ke tukang kunci, anak-anak kunci ini bisa dipakai.

Kejadian berikutnya ternyata terulang. Baru dipakai beberapa kali untuk membuka tutup bensin, keduanya langsung robek dan berpotensi putus. Bahannya memang lebih lunak, nggak sekeras seperti bahan anak kunci orisinil.
Karena nggak mau direpotkan lagi dengan urusan berburu anak kunci, akhirnya saya putuskan untuk mengganti biang masalahnya, yaitu tutup bensin, berikut anak kuncinya.
Maka, kasus perkara antara saya versus tutup bensin selesai dengan sendirinya.

Kembali ke ‘present time’.
Memperhatikan kondisinya, saya perkirakan, satu-satunya anak kunci yang tersisa ini pun suatu waktu bisa bernasib sama.


Saatnya berburu ‘key blank’ lagi?
Ya. Mau nggak mau. Harus. Tapi ‘slow hunting’ saja.


////