Monday, June 22, 2015

Panduan Melepas Grill Atas

Sekitar bulan Februari 2013, ketika berkutat mengatasi masalah kebocoran yang disebabkan saluran mampet, saya pernah kebingungan untuk melepas panel grill atas, yang letaknya di depan kaca mobil depan.


Saking bingungnya, sampai punya pikiran untuk melepas kap mesin, padahal sebenarnya tidak perlu sampai sejauh itu.
Untungnya pada saat itu, via telepon, pak Yan memberikan tips dan triknya seputar bagaimana cara membuka ‘panggangan sate’ (istilah yang saya tahu dari pak Yan) ini.
Terima kasih, pak Yan, atas bantuannya jarak jauhnya.

Karena dua Ahad lalu ada kepentingan untuk kembali membuka si ‘panggangan sate’ ini, maka sekalian saja saya buat tulisan. Barangkali ada yang membutuhkan.

Tahapan melepas;

1.    Lepas 2 sekrup luar di ujung atas, kanan & kiri.



2.    Lepas tangkai wiper.
Buka mur luarnya. Pakai kunci pas 13. [ Hati-hati, karet penutupnya mungkin sudah agak getas, karena usia].




3.     Setelah tangkai wiper lepas, ada satu mur lagi yang perlu dibuka, pakai kunci pas 22.



4.    Buka 5 sekrup dalam.

- 3 sekrup berada di posisi tengah.  [Marzo cuma terpasang 2, karena satu dudukan lagi sudah somplak].


- 2 sekrup lagi ada di pinggir atas, kanan dan kiri.


5.    Panel dilepas perlahan-lahan ke arah depan mobil, atau ke arah mesin, melalui kolong lekukan kap mesin.


[Di sinilah dulu saya pernah mengalami kesulitan. Saat itu, saya mencoba menarik panel ke arah belakang, atau ke arah kaca depan. Tidak pernah berhasil, karena kedua ujung panel selalu tertahan/nyangkut pada kap mesin. Di-info-kan oleh pak Yan, ternyata panel malah ditarik ke arah sebaliknya. Se-sederhana itu ternyata solusinya… hehe…].

6.    Lepas selang air wiper.




Tahapan memasang;

7.    Kebalikan dari melepas, panel masuk dari arah kaca depan ke arah mesin.


8.    Bersamaan dengan pergerakan panel, pangkal wiper harus dimasukkan ke lobang.


9.    Kalo panel sampai kelolosan, atau maksudnya pangkal wiper belum masuk lubang tapi panel sudah melewati batas kap mesin, maka diulang lagi langkah-langkah (no.7 & 8) di atas.

10.  Setelah mendarat dengan manis di posisinya, jangan lupa selang air wiper dimasukkan ke ujung nozzle-nya yang berada di balik panel grill.


[Ini jangan sampai terlewatkan. Mungkin karena faktor ‘U’, saya pernah sudah sampai di tahap mengencangkan semua sekrup dalam, baru teringat kalau selang belum dipasang.]

11.  Semua sekrup dalam, kemudian sekrup luar, dipasang kembali.

12.  Wiper dan teman-temannya dipasang kembali.


Selesai.

////

Saturday, June 20, 2015

Masalah Master Kopling Atas - Bagian 2 (3)

Saya pikir pada awalnya, tidak perlu lagi membuat tulisan seputar master kopling atas.
Toh barangnya sudah datang, dan tinggal dipasang.
Tahap pekerjaan pemasangannya mestinya juga akan serupa dengan yang pernah ditulis sebelumnya. So, apa lagi yang mau ditulis?

Nyatanya, tetap saja ada hal baru yang bisa diceritakan.

Di awali dari masih sulitnya saya dalam melepas pin-nya rod clevis.
Padahal, posisi penjepit pin-nya sudah saya tukar posisinya, yang semula di sisi kanan menjadi di sebelah kiri. Tetap saja saya kesulitan untuk melepasnya.

Setelah master yang lama dilepas, master yang baru pun langsung naik ke posisinya.

Normalnya, di titik ini mestinya cerita ini bisa selesai.

Tapi, justru mulai dari sini problem baru muncul.

Mur pengunci ujung pipa belakang si master kopling, ternyata nggak bisa masuk. Bisa sih diputar, tapi muter di tempat, alias tertahan di ujung lubang.
Entah apa masalahnya.
Akibat perbedaan ukuran metrik versus ukuran inch? Entah-lah… Soal per-baut-an yang tidak bisa masuk ke lubang baut, saya belum mengerti benar. Problem seperti ini saya alami juga di baut roda, dan belum solved sampai sekarang.

Setelah dipikir-pikir, bagaimana mencari solusinya selama beberapa hari, akhirnya saya putuskan untuk men-tap lubang pada master baru.

Ini tindakan yang agak ber-resiko sebetulnya.
Pertama, karena saya belum pernah nge-tap. Modal nekat saja. Hehe…
Kedua, saya agak khawatir kalo tindakan men-tap si master malah dapat membuat cacat pada ulir si mur pengunci. 
Kalo ulir pada master sampai cacat, itu masih bisa di-akalin, maksimal di-‘lem biru’.
Tapi kalo sampai terjadi si mur pengunci cacat atau rusak, saya akan bingung mencari penggantinya. Bentuknya khusus. Apakah ada yang jual?


Karena nggak punya pegangannya, saya pakai kunci pas saja, mengikuti saran dari penjual ’hand tap’. [Harga 1 set hand tap M12 berisi 3 jenis tap adalah 45rb-an. Saya kena “diskon” cuma beli 30rb, karena ada satu jenis tap yang hilang.]

Setengah jalan, diujicobakan dulu.
Hasilnya, pengunci bisa masuk dan berputar mulus. Berarti ulir hasil nge-tap cocok.
Mur pengunci sempat saya periksa. Tidak ada ulir yang cacat. Aman. J
Kerjaan nge-tap lalu dilanjutkan lagi, sampai dirasa cukup.

Eh, iya. Waktu nge-tap malah nemu lubang kecil pada karet boot-nya master.


Waduuuuuh! Ini lubang kenapa bisa ada ya?
Apakah sudah ada sejak barang datang? Saya nggak periksa secara detail kondisi karet boot ini sebelumnya.
Ditambal pakai lem Uhu saja. Semoga awet.


Mengenai si rod clevis, akhirnya saya putuskan untuk mengganti pin-nya dengan baut atau semacamnya, yang sesuai ukuran dan fungsinya.
Hasil nge-bongkar-bongkar kotak peralatan, akhirnya saya menemukan apa yang saya cari.


Kepala aki. Ambil bautnya saja.
Mur-nya, kebetulan, punya beberapa. Hasil salah beli… hehe..


Mur ternyata nggak bisa masuk terlalu dalam, sehingga tertahan di ujung.
Pola ulirnya sepertinya berbeda, tapi ini nggak terlalu masalah-lah. Terpenting, fungsinya sebagai penahan baut supaya tidak bergerak sudah terpenuhi.


Okeh.
Setelah master kopling selesai dipasang, maka kasus dinyatakan selesai.  J
Alhamdulillah….



////

Monday, June 1, 2015

Masalah Master Kopling Atas - Bagian 2 (2)

Alhamdulillah.
Barang yang kemarin diomongin sudah ada di tangan.  J


Terus terang, sejak dari awal men-tracking hingga barang sampai, cukup bikin saya terkesima.
Karena belum pernah mengalami proses pengiriman yang relatif cukup cepat seperti kali ini.
Dari pengalaman yang sudah-sudah, pengiriman dari eropa memakan waktu antara 2~3 minggu.
Bahkan bisa lebih lama lagi, kalo mesti mengurus bea masuknya dulu ke instansi terkait. Seperti yang pernah saya alami saat mendatangkan safety belt bangku belakang dari Jerman.

Okeh.
Barangnya sudah ada, tinggal dipasangnya saja yang entah akan dikerjakan kapan.
Saya berharap, akhir pekan ini sudah terpasang.
Bermodalkan pengalaman ngoprek tahun lalu, saya cukup pede untuk pemasangan kali ini. Hehe…




////

Saturday, May 30, 2015

Masalah Master Kopling Atas - Bagian 2

Awal pekan ini ditandai dengan berkerutnya kening, ketika mendapati master kopling atas kembali bermasalah.

Alhamdulillah 'ala kulli hal.


Padahal baru saja diganti Agustus tahun lalu. Huff….

Perkiraan sekilas dan sepintas, tingkat kebocorannya terlihat lebih buruk dibanding yang lalu.

Mesti gerak cepat, dan pilihannya cuma dua.
Satu, beli, entah itu barang baru atau barang seken
Dua, perbaiki barang yang lama, yang belum sempat saya periksa sama sekali sejak terakhir diganti dengan yang sekarang terpasang ini.

Sudah tanya-tanya ke mas Ano IF, karena beberapa waktu yang lalu, saya pernah ditawari barang seken. Ternyata, barangnya sudah nggak ada.
Sedangkan suku cadang baru kemungkinan baru akan ada setelah Lebaran.
Status repair kit juga lagi kosong. Disarankan oleh mas Ano untuk memakai kepunyaan Elf.

Setelah mempertimbangkan segala aspek, terutama waktu, akhirnya saya putuskan untuk beli baru. Terpaksa ngimpor lagi, seperti kejadian sebelumnya.

Order pada hari Senin. Saat tulisan ini dibuat, posisi barang sudah ada di Singapura.



////

Thursday, April 30, 2015

Tentang Pengunci Ban Cadangan

“Ini nggak ada penguncinya?”.
“Ya. Begitu saja”, jawab saya spontan, sesaat setelah petugas bengkel ban meletakkan ban cadangan Marzo, beberapa tahun silam.

Setelahnya saya jadi mikir. Apakah memang betul, tidak ada penguncinya?

Sejak Marzo saya punyai, ban cadangan memang ditaruh begitu saja di tempat cekungnya. Cekungan ini memungkinkan ban tidak bergeser dari tempatnya, kecuali kalo mobil sampai jungkir balik. (Tentu saja, saya tidak mengharapkan sampai terjadi demikian).
Kesimpulannya, untuk keadaan normal, pengunci ban memang tidak terlalu diperlukan benar.

Beberapa bulan lalu, saat melihat-lihat ePER, ternyata memang ada pengunci ban cadangan. Istilahnya ‘Plug’, alias ‘penyumpal’.



Singkat cerita, pertengahan Februari lalu, obyek yang dimaksud berhasil didapatkan. (Don’t ask ‘how’. J )


Tapi….  kok nggak bisa dipasang ya….
Bautnya seperti kurang panjang, sehingga nggak sampai ke lubang baut pada braket.


Coba dianalisa.
Ban sudah memakai pelek ori.
ID parts-nya juga sudah sesuai. So?
Masak sih, pabrik membuat sebuah produkan yang tidak bisa dipasang?

Supaya berguna, sempat terpikir untuk melepas bautnya dan diganti dengan yang lebih panjang. Kendalanya, bagaimana melepas si baut dengan tanpa merusak rumahnya?




Lalu, terpikir juga untuk menambahkan semacam braket tambahan, sehingga baut bisa nyangkut dan mengunci. Hmmm…. Ini bikin kerjaan baru saja….

Sampai suatu waktu, tepatnya sekitar 3 minggu yang lalu, saya melihat penampakan benda yang sama, tergeletak di samping dispensernya bengkel pak Asep Dermaga.

Nah, ini dia!
Berarti, bendanya memang ini. No doubt.

Dan, kelamaan saya mulai agak mengerti ….
Pengunci ban ini sepertinya di-disain untuk ban dengan ukuran standar dari pabrik, yaitu lebar 155 mm.



Itu sebabnya, menjadi tidak berhasil ketika pertama kali dicoba pasang dengan ban cadangan yang berukuran lebar 185 mm. Dengan lebar pelek ori sekitar 140 mm, maka menyebabkan ban agak menggembung, sehingga menimbulkan tebal tambahan.



Berhubung nggak punya ban dengan ukuran ban 155, maka biar nggak penasaran, saya coba dengan pelek ori tanpa ban.



Hasilnya? Alhamdulillah…   
Sesuai dugaan, si pengunci nyangkut, bautnya bisa berputar mulus, dan terkunci.
Problem solved.  J




Ketika dicoba dengan posisi hanya sedikit nyangkut di ujung, masih ada renggang sekitar 2 cm.
Maka, hitungan kasarnya, kira-kira batas toleransi maksimum lebar ban yang bisa dikunci adalah sekitar 170~175 mm.



////