Friday, June 29, 2018

Seputar Dunia Maya (3)

Di edisi ketiga ini, saya ingin menunjukkan tentang pendokumentasian perawatan kendaraan.
Beberapa orang mungkin berpikir hal ini tidak diperlukan, tetapi saya berpikir sebaliknya.
Saya pernah melihat excelsheet milik salah seorang Fiater, di mana terdata segala yang terkait dengan pemeliharaan mobilnya: item perbaikan, berikut ongkosnya; suku cadang yang dibeli atau diganti; dan lain sebagainya.
Selain bermanfaat untuk merekam jejak seperti yang disebut di atas, pembuatan "maintenance record" juga bisa menjadi sesuatu yang meng-asyikkan.

Sebagai contoh, sebuah situs dari Jepang. 
Jepang?

Ya. Jepang. Jepun.
Komunitas Fiat memang ada di negeri ini, dan beberapa tipe Fiat bisa eksis di sana.
Tapi, untuk variannya Marzo, sejauh ini saya belum pernah tahu, apakah ada atau tidak.

Jadi, situs yang kita kunjungi kali ini tidak membahas tentang saudara-saudaranya Marzo.
Melainkan salah satu tipe Fiat yang lain, yaitu Panda.

Situs ini saya temukan secara tidak sengaja,  akibat googling satu nomor spareparts pada satu waktu.
Linknya:


Si pemilik situs ini (entah siapa) terlihat sangat rajin dalam me-record segala aktivitas yang menyangkut pemeliharaan Panda-nya. Ter-arsip dengan rapih, dari tahun ke tahun. [Bisa di-klik tautan tahun demi tahun pada situs tersebut.]



Situs ini ditunjang dengan gambar-gambar yang bersih, sehingga bikin enak dilihat.
[Kalo diperhatikan sekilas, style-nya mirip dengan blog Marzo, yaitu yang empunya situs nggak pernah kelihatan wajahnya di foto-foto yang terpajang. Hehe….]

Ngomong-ngomong. Jangan tanya apakah saya mengerti konten situs ini atau tidak.
Tulisan kanji saya nggak ngerti sama sekali.
Jadi kita sama-sama pakai google translate saja-lah, ya….  Hehe….

////

Thursday, May 31, 2018

Masalah Aki

Awal bulan Mei ini ada sebuah euforia kegembiraan, akibat terdengarnya lagi deru mesin Marzo di halaman rumah setelah “mute” selama ber-minggu-minggu (Sebenarnya sih “berbulan-bulan”….  hehe….).

***

Saking lamanya, saya sampai lupa, kapan terakhir kali memanaskan mesin. Januari? Februari?
Pastinya, saat kali pertama mencoba men-starter, yaitu pada sekitar akhir Maret, nggak mau hidup sama sekali.

Seperti biasa, tertuduh utama adalah aki.
Setelah di-charge ber-ulang-ulang pakai alat sendiri, dan pernah sekali dibawa ke tukang cas aki, masih belum berhasil hidup juga. Jadi heran, aki umur baru setahun kok sudah mati?
Tuduhan sempat juga beralih ke yang lain. Tetapi malah jadi bingung sendiri untuk menentukan penyebabnya. CDI-nya? Atau, dinamo starter? Ujung-ujungnya bisa berakhir ke duit juga.....

Pada akhirnya, saya mengikuti saran dari Ryan, seorang tetangga yang baik hati yang pernah membantu saya nge-bleeding rem, yaitu mengganti air aki.
Nggak terlalu berharap banyak sebetulnya, tetapi tetap saya lakukan, karena untuk beli aki yang baru, hati (dan dompet) masih terasa berat. Selain itu juga, hitung-hitung buat nambah pengalaman baru.

Langkah-langkah pekerjaannya banyak terdapat di yutub. Ringkasnya begini:
1.    Air aki lama dikuras habis
2.    Dikocok beberapa kali dengan air panas.
3.    Aki diisi kembali dengan air accu zur.
4.    Aki di-cas.

Saya beli air accu zur sebanyak 3 botol ukuran 1000ml. Terpakai lebih kurang dua setengahnya, atau 2.5 liter.


Selama memakai alat Automac, sepertinya baru kali ini saya melihat warna lampu indikator biru menyala sendirian. Biasanya, lampu indikator warna merah di sebelahnya masih menyala remang-remang.


Jadi timbul rasa optimis.
Saking antunsias-nya, aki langsung saya coba walau di-cas belum terlalu lama. Ternyata, mesin masih belum bisa hidup.
Aki di cas lagi, dengan lama waktu lebih lama. Di atas 12 jam.
Setelahnya, dicoba lagi.  YES!

Alhamdulillah.

***
Kegembiraan ternyata tidak berlangsung lama karena satu hal.
Mesin dengan segera saya matikan, setelah melihat ada tetesan bensin jatuh di posisi sedikit di atas alternator.
Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Nyaris saja……. nyaris….nyaris….
Cukup beruntung, kotak filter udara sedang saya lepas saat itu (biasanya nggak pernah dilepas), sehingga kejadian ini bisa langsung ketahuan.


Setelah ditelusuri, bensin merembes keluar dari hubungan selang dengan karbu.

Saya pernah baca (mungkin) di milis, ada Fiater yang pernah punya pengalaman serupa. Nyaris jadi musibah.
Anyway. Posisi selang berisi bensin melintang di atas alternator memang agak beresiko.

***


Setelah dilepas, selang dipotong sedikit dan dirapihkan potongannya, kemudian dipasang lagi dan dikencangkan klem-nya.
Sampai tulisan ini dibuat, alhamdulillah, bensin tidak merembes keluar lagi.

////

Monday, April 30, 2018

Masalah Pipa Rem Belakang (2)

Sekitar dua minggu setelah awal kejadian, atau seminggu setelah pipa rem baru patah, baru terpikir untuk cari suku cadang bekas di tempat cak Fahri di Parung.
Setelah saya kontak, dan dijawab bahwa barangnya ada, maka pada akhir pekan itu, meluncurlah saya hingga sampai di lapaknya.
Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di tempat semacam ini, yang di luar sono biasa disebut sebagai “scrap yard”.


Nama Cak Fahri (dan Warung Fiat, atau “Waryat”) itu sendiri cukup kondang di komunitas Fiat. Sebagai penyedia suku cadang copotan dari -khusus- mobil-mobil Fiat yang disudahi umurnya. "Dikampak”, begitu istilahnya.

Sayangnya, cak Fahri saat itu lagi nggak di tempat. Tetapi sudah men-delegasikan urusan saya tersebut ke keponakannya.
Ada dua set kaki-kaki belakang yang ditunjukkan ke saya. Masih komplit dengan tromol dan pipa remnya. Entah dari mobil kepunyaan siapa. Mobil yang bernasib malang ….

Ternyata, kejadiannya hampir sama dengan yang saya alami, yaitu mur konektor susah dilepas.
Sehingga, saya putuskan untuk mem-pending urusan ini dan balik pulang saja.
[Eh, saat itu saya nggak terpikir untuk ambil-ambil foto. Saking sibuknya nontonin orang mencoba melepas pipa rem].

Seminggu setelahnya, Parung saya datangi kembali. Sebelumnya, sudah dapat kabar gembira dulu bahwa pipa rem tersebut sudah berhasil dilepas.

Kali ini ketemu cak Fahri-nya langsung. Ngobrol-ngobrol dulu sekitar satu jam-an kurang.
Ditawari juga pipa rem panjang yang menuju ke roda belakang kiri.
Ya sudah, sekalian saja. Walaupun saat ini lagi nggak perlu.



Alhamdulillah.
Pipa rem belakang kanan terpasang kembali.


////

Saturday, March 10, 2018

Masalah Pipa Rem Belakang

Ketika mencoba melepas silinder rem roda belakang kanan, sekitar sebulan yang lalu, saya malah jadi punya urusan dengan mur konektor pipa remnya.


Akibat keasikan muter-muter mur dengan kunci pas dan nepel, saya telat menyadari kalau obyek yang diputar ternyata tidak ikut berputar.
Wah…. masalah nih….. 
Langsung terhenyak setelah tahu mur sudah terlanjur dol. Potongan penampang segi enam sudah berubah nyaris menjadi lingkaran.

Si silinder rem akhirnya dilepas segelondongan bersama pipa remnya, setelah terlebih dahulu ujung pipa rem yang satunya lagi dilepas dari percabangan pipa. Untungnya, panjang pipa rem hanya 40 cm.




Sudah di-dismantle kayak begitu-pun, dan disemprot we-de-pat-puluh, tetap saja si mur konektor itu susah untuk dilepas.


Nggak ada jalan lain, selain mengganti pipa rem tersebut, komplit dengan dua konektornya.
Solusi praktisnya adalah mencari pipa rem universal yang dijual meteran.
Saya beli dengan ukuran panjang setengah meter. Lebih panjang sepuluh senti dari panjang pipa aslinya.


Sejak awal, sudah agak kurang ‘sreg’ dengan bentuk ujung pipanya yang nggak sama dengan pipa ori. Bahkan, aneh-nya, kedua ujung pipa rem baru tersebut tidak sama satu sama lain. Dan, saya sangsi dengan salah satu ujungnya tersebut, yang terkesan ujung pipa hanya di-megar-kan begitu saja.
[Setelahnya, baru tahu kalo hal ini ada istilahnya. Namanya, “flare” atau “flaring”.  Tukang AC yang saya tanya, menyebutnya sebagai “plering”, pakai “p” bukan “f”. Hehe….]




Sebelum di-bending, coba dipasang dulu ke percabangan. Memang terasa kendor. Nggak sekencang seperti koneksi pipa ori-nya.
Feeling saya, kalo pipa baru ini dipasang, bakalan rembes.
Tapi gak ada pilihan. Saya tetap teruskan pasang pipa rem ini.

Pertama, pipa mesti dibentuk dulu lekukannya sesuai kondisi jalur yang dilintas.
Ditekuk-tekuk pakai tangan, masih bisa. Sesekali pakai bantuan kanvas rem.
[Setelahnya, saya baru tahu kalo nge-bending pipa rem ternyata ada alatnya].



Sampai satu saat, ada lekukan tanggung. Maksudnya biar cepat, maka saya bengkok-in pakai bantuan tang. Hasilnya, bentuk lekukan malah jadi terlalu patah, bukan lengkung.

Ctak!  Pipa rem beneran jadi patah, ketika bending-an hasil tang tersebut saya coba normalkan dengan tangan.


Wah...... masalah lagi….


***
Beberapa hal yang baru dipikirin setelah kejadian;
1.    Kalo mau lebih rapi dan yakin, buat template lekukan terlebih dahulu dengan bahan lain, misalnya kawat.
2.    Beli pipa rem jangan nge-pas jumlahnya. Beli lebih sebagai cadangan.

////

Monday, February 12, 2018

Seputar Paket Kiriman

Mensiasati kebutuhan suku cadang, mesti realistis, dan juga pragmatis.
Nggak ada waktu untuk mencari ke sana-sini, maka beli online jadi pilihan. Baik itu lokal-an, atau ebay-an.
Lama-lama jadi biasa.
Orang-orang di rumah, begitu juga satpam di kantor, juga jadi terbiasa kalo ada datang paket kiriman atas nama saya. Hehe…

Serba-serbi seputar paket yang diterima itu sendiri juga bisa dijadikan cerita.

Seperti, pada bulan Januari kemarin, ada tiga paket kiriman yang bikin saya takjub.

Pertama, paket berukuran panjang 24 cm, lebar 15 cm, dan tinggi 11 cm.


Awalnya, saya sempat merasa aneh dan sedikit nggak percaya.

Perasaan, saya cuman memesan barang yang ukurannya relatif kecil. Tapi kok kardusnya besar banget ya?



Setelah dibuka, memang benar ini pesanan saya.
“Cuma” satu buah kunci nepel. Haha...
Ruang kosong diisi plastik gelembung udara dan katalog. 

Kedua, paket dari luar.
Nggak ada yang aneh soal ukuran. Karena sesuai dengan bayangan saya akan ukuran barang yang dipesan.

Tetapi…..  kirimnya pakai perangko!  Masya Allah


Berjarak dua minggu kemudian, datang satu paket lagi. Juga, pakai perangko.


Di luar sana, perangko sepertinya masih lebih eksis, dibandingkan dengan di sini.

Penampakannya jadi mengingatkan saya akan hobi lama sebagai filatelis.

////