Monday, January 4, 2016

Tentang Buku Pegangan (2)

Selain Buku Pedoman Pemilik, buku atau referensi lain yang dapat dijadikan sebagai rujukan adalah buku manual keluaran Haynes, dengan nomor seri ‘0923’.

Sampul depannya….


Beberapa halaman di dalamnya………



Keberadaan buku ini mestinya sangatlah berguna bagi para oprek-er.
Isinya cukup komplit. Hampir semua topik dibahas. Pengapian, perkabelan, transmisi, dan lain-lain.

Konon, pembuatan serial Haynes ini dilakukan dengan cara mem-preteli bagian-bagian mobil satu demi satu, kemudian dirakit kembali. (Kurang kerjaan banget, yak?)
Ilustrasi yang menggambarkan proses ini, terdapat di sampul belakang beberapa serial Haynes.


Nilai minusnya mungkin terletak pada masih hitam-putihnya foto penunjang yang terdapat pada halaman-halaman di dalamnya.
Tapi ini bisa di-maklumi, karena terkait dengan ongkos produksi buku (=harga jual).

Bagi saya pribadi, kendalanya ada di faktor bahasa. Hehe... Nih masalah klasik banget memang... 
Saya sering kerepotan dalam memahami kata-kata atau istilah-istilah yang terasa belum familiar dan nancep di otak. Vocab-nya dunia otomotif berbeda dengan vocab-nya disiplin ilmu saya.

Overall, informasi yang terdapat pada buku ini sangat membantu saya. Misalnya, penilaian tingkat kesulitan yang diberikan Haynes atas satu jenis pekerjaan, bisa menjadi pertimbangan saya untuk melakukan suatu tindakan.


Buku ini saya punyai sejak Juni 2012. Boleh beli seken, dengan harga bersahabat.
Saya dapatkan atas kemurahan hati seorang fiater yang mau melepas koleksi pribadinya. (Terima kasih banyak, kang Yvan G. di Bandung).

Versi dijital-nya, baik berupa DOC maupun PDF, sudah banyak beredar di dunia maya.
Jauh sebelum mempunyai Marzo (dan buku cetaknya), saya malah sudah duluan meng-unduh-nya.


Umumnya, sebuah buku akan diterbitkan berulang-ulang. Bila ada perbaikan dan penambahan materi, edisi keluaran berikutnya bisa berbeda dengan edisi sebelumnya.

Haynes ini juga terbit dalam beberapa edisi.

Buku, atau versi cetak, yang saya punya adalah edisi terbaru. Setahu saya begitu.

Di dalamnya sudah mencakup tipe ‘MK dua’, walau terbatas hanya untuk tipe yang ber-bahan bakar bensin, dan ber-transmisi manual.
Untuk versi transmisi matik, yaitu tipe “Selecta” tidak dibahas..
Demikian juga tidak dibahas untuk tipe yang berbahan bakar bukan bensin, alias tipe Diesel.

Sampul depan edisi-edisi sebelumnya kayak begini nih. (Gambar ngambil dari situs ebay).

 

Bisa dikatakan, ini edisi untuk ‘MK satu’. Saat edisi ini terbit, ‘MK dua’ belum ada.

Saya belum pernah tahu isinya seperti apa.
Saya pikir, isi edisi lama mestinya sama dengan edisi yang saya punya.
Karena, di edisi baru tersebut, pembahasan ‘MK dua’ ditempatkan sebagai satu bab tersendiri sebagai bagian tambahan, atau ‘suplemen’.
Sedangkan bab-bab utama-nya malah merupakan pembahasan untuk ‘MK satu’.




Adakah versi bahasa lain, selain English?
Hasil nge-googling, ter-indikasi ada, yaitu ber-bahasa Perancis. (Lagi-lagi, gambarnya boleh nyomot dari situs ebay).

 

Saya sempat ketipu. Tadinya saya kira, ‘essence’ yang tertulis di sampul depan adalah 'essence'-nya english. Nggak tahunya, itu bahasa perancis-nya ‘petrol’ (atau, bensin).
Bacanya, 'essongs' kali ya? Hehe...

////

Thursday, December 31, 2015

Seputar Angka Kilometer

Terkadang, saya mendapati beberapa tipe orang yang –sepertinya-  enggan diketahui berapa kilometer aktual yang sudah dijalani kendaraannya.
Hal ini bisa diketahui dari upayanya, entah itu baru sebatas niat dan ucapan atau malah sudah dilakukan, dengan merekayasa angka kilometer pada speedometer kendaraannya.

Ah… Sebenarnya saya nggak ada urusan dengan hal beginian. Masing-masing saja-lah.


Mumpung mau berganti tahun, saya coba rekam, berapa angka kilometer yang tertera pada speedometer.
Rencananya, akan dibandingkan pada akhir tahun depan. Insya Allah.
Nanti bisa ketahuan mengenai berapa jumlah kilometer yang telah ditempuh Marzo dalam setahun berjalan, yaitu di tahun 2016.



228518.

See.
Saya open saja soal angka kilometer. Ngapain mesti malu dan nutup-nutupi. Hehe…
Itupun sebenarnya masih bisa lebih lagi, karena kabel speedometer dulu sempat putus selama beberapa bulan.


Apakah normal untuk mobil usia 20 tahun-an? Relatif.

Kalo mereka-reka sejarahnya, mungkin bisa dibilang masih wajar.
Dari cerita yang pernah saya dengar dari pak Bambang (pemilik sebelumnya), daya jelajah Marzo memang cukup jauh. Mainnya bisa sampai ke daerah Jawa sono.
Ditambah, Marzo memang jadi kendaraan harian bagi bu Dewi (pemilik pertama, yang merupakan adik pak Bambang), pulang pergi Bekasi-Jakarta.
Masa mudanya Marzo dihabiskan untuk menggelinding ke sana-sini.
Cuma pemiliknya yang sekarang ini saja yang nggak pernah membawanya untuk jarak jauh. Hehehe…

Balik ke poin semula.
Waktu mengganti oli transmisi pada pertengahan tahun 2014, saya sempat mencatat angka 224938.

Jumlah kilometer selama satu setengah tahun, yaitu periode akhir Juni 2014 sampai akhir Desember 2015, bisa di-olah nih…

228518 -  224938 = 3580 km.
3580 km per 18 bulan = 198.9 km per-bulan  =  49.7 km per-minggu. Bulatkan menjadi 50 km per-minggu.

Dihitung dengan satuan ‘per-minggu’, karena kebanyakan keluar kandangnya cuma pas wik-en.
Berarti, rata-rata 25 kilometer sekali jalan.

25 kilometer, kayak jarak dari mana ke mana ya?

Setelah diukurin ke peta, ternyata…. lebih kurang itu adalah jarak dari rumah ke ge-de-se sektor melati….   Wow….

Masak sih? Bepergiannya kami selama satu setengah tahun terakhir, kalo di-rata-rata, identik dengan pergi ke depok setiap minggunya? 


////

Friday, November 13, 2015

Tentang Strut Bar

Strut bar, atau strut brace.

Dari beberapa kali membuka kap mesin di hadapan pemakai merek kendaraan lain, strut bar berwarna merah ke oranye-oranye-an (atau oranye ke-merah-merah-an?) menyala ini selalu menarik perhatian mereka.
Mereka rata-rata heran dan takjub, mobil sekecil Marzo kok dipasangi benda beginian, seperti mau balapan saja.


Varian-nya Marzo, maupun yang MK satu, aslinya memang nggak dipasang dari pabriknya. Entah, kalo yang varian Turbo.

Saya membelinya dari pak Yan, awal Oktober 2012. Inilah asal mula saya berkenalan dengan fiater senior nan kawakan itu.
Konon, beliau meniru atau menjiplak strut bar miliknya yang orisinil ber-merek, untuk kemudian di-produksi secara –cukup- massal. Ngakunya sih, sampai 50 biji.
Jadi nggak heran, kalo produksi pak Yan ini banyak dipakai teman-teman satu komunitas.
Julukannya adalah ‘SBY’. Mungkin itu akronim dari ‘Strutbar Yan’.

Sempat ditawarkan juga strut bar untuk sasis belakang, tetapi saya kurang tertarik.
Posisinya yang akan melintang di tengah-tengah kabin bagasi, membuat saya berpikir bahwa itu akan menyusahkan saya bila mau menaruh barang yang cukup besar di bagasi.

Testimoni para user hampir semuanya positif.
Dari pengalaman yang saya rasakan sendiri, pemakaian strut bar ini memang bikin mantap kendaraan. Terasa sekali perbedaannya dibanding ketika sebelum dipasang.
Salah satu contohnya, yang paling saya demen adalah ketika bermanuver pada jalan sedikit berliku di jalan Minangkabau dengan kecepatan cukup cepat (bukan tinggi), terasa lebih stabil.  J


////

Wednesday, November 11, 2015

Masalah Pegangan Pintu

Satu pagi di akhir bulan Oktober, sesaat setelah mencoba membuka pintu untuk masuk ke kabin pengemudi, saya termangu.



Sebegitu kuat-kah tarikan tangan saya sekarang? 
Bukan main.....

////

Monday, October 12, 2015

Ganti Selang Hawa Alternator


“Selang ini berfungsi sebagai penyalur udara ke alternator. Angin masuk dari mulut selang di atas, saat kendaraan jalan”.
Demikian penjelasan pak ABS waktu saya bertandang ke rumahnya setahun yang lalu.

***

Berawal dari pecahnya klem/clamp selang ke alternator satu setengah bulan yang lalu, maka dua minggu setelahnya, saya turunkan saja seluruh selangnya.

Bentuk fisiknya sungguh mengenaskan…..
Ketika coba untuk dibersihkan, eh, malah jadi putus.


Jadi ada alasan kuat untuk mencari gantinya. Hehe...

Okeh.
Obyek buruannya adalah selang fleksibel aluminium ber-diameter 4 cm (atau 1.5 inch), dengan panjang sekitar 60 cm-an.
Diameter selang agak lebih besar dikit, nggak apa-apalah.
Nilai 4 cm itu merupakan dimensi diameter mulut lubang di alternator.



Hasil blusukan di dunia maya: Nihil.
Kebanyakan yang ada di iklan lokal, adalah selang berdiameter 4 inch, atau 10 cm.

Sebelum melangkah ke upaya berikutnya, mencoba cari di dunia nyata, yaitu ke Atrium Senen, iseng-iseng saya bertanya ke mas Ano. Eh…. ternyata dia punya…. 



Langsung saja diproses, nggak pakai lama.

Setelah barang sampai di tangan, dilakukan pengamatan.
Diameter 4 cm. Panjang sebelum di-melar-kan 40 cm lebih sedikit.



Secara fisik, selang baru ini berbeda dengan yang lama.

Kalo diperhatikan benar-benar, pada selang lama terdapat satu selang lagi di dalamnya.

Selang terluar, aluminium berlapis karet. [Tadinya saya kira, selang menghitam karena saking kotornya. Setelah diamati, yang hitam itu adalah lapisan karet].
Di katalog ePER, selang ini dinamai sebagai “Rubber Tubes and Feeding Sleeve”. Berarti benar, selang ori ada unsur karetnya.

Selang di dalamnya; seperti berbahan kertas kardus. Mungkin ini semacam kain tahan api.




Klem bawah diganti dengan yang baru.
Saya tidak tahu bentuk fisik klem lama sebelum pecah seperti apa. Kalo dilihat dari sisa pecahannya, klem yang lama ini berbahan karet.




Pengait ujung mulut selang di atas, atau klem atas, tetap pakai yang orisinil.
Klem ini mestinya bisa dibuka dan membelah. Tapi penguncinya alot banget. Khawatir malah jadi rusak, maka saya nggak paksakan.
Karena klem tidak bisa dibuka, maka ujung selang baru nanti dimasukkan begitu saja, tidak terjepit, sehingga bisa berpotensi lepas sewaktu-waktu.



Saatnya memasang.

Ternyata…
Selang baru nggak bisa masuk ke ujung lubang di alternator. 
Berantem tuh, diameter 4 cm versus 4 cm.   J

Memang seharusnya pakai selang yang berdiameter lebih besar sedikit, seperti selang yang lama.
Sempat terpikir, mau ngikutin caranya pak ABS, yaitu ujung selang dibelah sedikit supaya selang bisa dimasukkan. Tapi, saya tetap berupaya untuk tidak “merusak” barang baru.

Solusinya, saya pakai potongan dari selang lama, berfungsi sebagai ‘shock’ penyambung.





Benda baru nan berkilau ini bikin manis penglihatan juga….   J
Alhamdulillah.



////